Cerpen Cinta Romantis - Best Date Ever 2: Steps To Be Popular by Aji
Melihat seorang sahabat kita menemukan tambatan hatinya, kita patut turut gembira. Tapi yang kurasakan justru berbeda. Aku makin galau karena aku ditinggal sahabatku mendapat 'perfect girl'-nya sedangkan aku hanya bisa menunggu malaikat menurunkan bidadari bagiku. Sebelumnya perkenalkan *mungkin dah pada kenal* namaku Surya. Dan sahabat terbaikku tadi boleh dipanggil David dengan titel yang dibawanya sebagai 'the most pupolar student in the school'. Penghargaan itu diraih bahkan sejak Masa Orientasi Siswa yang menandakan begitu ternamanya dia, piawai menari, bernyanyi, bermain musik; seorang olahragawan muda; memiliki jiwa di dunia theater dan terkenal sebagai cowok cool, riang, nan romantis. Udah aja perkenalan singkatnya gak perlu berlama-lama.
Yah, seperti hari kemarin, dan kemarin lagi, dan kemarinnya lagi *hah lamak* ^^v aku bergegas untuk berangkat sekolah. Setelah sarapan pagi, aku mengambil tas hitam diatas meja ruang keluarga dan pamit kepada orangtua. Saat aku hendak berangkat, ringtone hapeku berdering penanda adanya telfon masuk. Aku angkat panggilan dari kawan karibku, David.
"Hei napa pagi-pagi udah nelfon, kangen yaa"
"Idiih gue masi waras kali. Gue lagi butuh bantuan loe nih. Motor gue mogok jadi gue nunut kamu aja, Pleaseee"
"Kalo gitu si Fanny gimana? masa bonceng bertiga?" Oiya Fanny itu pacar barunya David
"Loe cukup nganterin sampe rumahnya pas disana aku ajak dia naik angkot"
"Ya ampun, anak orang lu suru naik angkot"
"Loe memang lemah soal taktik. Kalau naik taksi terlalu mahal. Naik angkot gak perlu ngerogoh kocek banyak tapi dapet kemesraannya"
"Mesra katamu??"
"Kamu memang engga bisa ngerti-ngerti ya. Dia angkotkan rame tuh. Pasti kita duduknya berdempetan. Kalau beruntung bisa pangkuan dech. Sekalian pamer kemesraan gitu"
"Iya. Gua akuin lu sebagai cowok teeeeerrromantis yang pernah gua kenal" nampaknya aku harus banyak belajar banyak dari senpai {Bahasa Jepang artinya master} yang satu ini
"Jadi gimana?"
"Bolehlah. Asal nanti traktir di kantin. Oke?"
"Apa boleh buat. Traktir bakso doang loo"
"Tambah es teh panas ama permen. Setuju?"
"Emang ada es teh panas??"
"Jiaa, salah dikit aja ga usah dipermasalahin. Kalo setuju sekarang aku menuju ke TKP"
"Deal"
Aku langsung menuju rumah David yang notabene tak jauh dari kandangku *emang gua ayam kali*. Dari kejauhan terlihat David melambaikan tangannya. Singkat cerita mengantarnya sampai kerumah pacarnya tapi aku dipaksa tidak boleh kelihatan kalau mengantarnya. Sangat merepotkan. Aku tidak langsung ke sekolah tapi mampir dulu ke konter pulsa terdekat. Saat aku mau cabut, kulihat angkot yang rutenya ke arah sekolah. Pasti mereka sudah ada didalam. Akupun mengikuti angkot itu. Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang melompat keluar dan nampak membawa ponsel berwarna pink. Dari dalam terdengar teriakan "Malingg" "Pencuri" "Jambret" "Kampret". Lantas saja kukejar penjahat tersebut. Dengan secepat kilat aku berhasil menangkapnya dan dia sudah tak mampu melawan. Kemudian beberapa kerumunan orang datang menghampiriku. Dan diantaranya ada dua orang yang aku kenal.
"Kamu hebat, Sur"
"Biasa aja. By the way ini pasti kepunyaanmu bukan?"
"Makasih banyak"
"Sama-sama. Kalian mau lanjut naik angkot apa mau bareng"
"Ngga perlu. Sekolahan juga udah hampir deket kan"
"Kalau gitu aku duluan ya. Byee.."
Aku kembali mengendarai motorku dan bergegas menuju sekolahan. Sesampainya disana, aku tak lekas ke ruang kelas. Kutunggu mereka berdua di gerbang sekolah. Tak lama Lena mendatangiku.
"Pagi Surya"
"Eh pagi juga"
"Lagi nungguin siapa sih, dari tadi aku perhatiin ga beranjak dari tempat ini."
"Ee, anu.. aku.. itu.. mau..."
"Ngomong yang jelas napa. Kaya dikejar sepur mabur"
"Lagi nunggu David ama pacarnya"
"Oh, jadi karena itu. Kira-kira aku boleh nanya sesuatu?"
"Se-sesuatu, sesuatu apa?"
"Kamu udah punya cewe belum?"
"Cewe? Pacar githu? Hahaha, mana ada yang mau sama aku"
"Mmm, gebetan mungkin?"
"Hah, kamu becanda kali. Jelas ga ada"
"Sebentar aku pergi dulu dipanggil Cindy tu"
Lena meninggalkanku sendiri. Aku masih menunggu dan saat yang dinanti tiba. Angkot telah sampai dengan selamat. Beberapa orang sudah keluar kebanyakan juga murid sekolah sini. Dan belakangan keluarlah David disusul Fanny dan... sesosok gadis berambut sebahu warna coklat mengenakan seragam yang sama dengan Fanny. Apa tandanya dia juga siswi disini? Tetapi aku tak pernah melihatnya sebelumnya. Apa aku terjangkit jatuh cinta pada pandangan pertama. Apakah Tuhan sudah mengambulkan doaku
"Woy loe udah mulai tuli apa ya? Dikirain kita angin berhembus kali."
"Hah, hah, apa tadi"
"Tau ah. Ayo kita masuk kelas aja sayang. Tinggalin aja si tukang bengong itu"
Dilain tempat,,,
"Ada apa Cin? Ada yang mau kamu bicarain"
Enggak kok cuma tadi kalian ngapain disana?"
Sekedar ngobrol pagi, memang salah"
"Memang gak salah. Tapi keliatannya kamu suka sama Surya"
"Eh, jangan mengada-ngada"
"Bukan mengada-ngada tapi ini fakta"
"Terserah aku mau masuk kelas dulu" 'omongan Cindy mungkin benar. setiap aku didekatnya aku merasa nyaman. senyumannya juga membuatku tenang. apa benar aku suka sama dia?'
SKIP Bel istirahat berbunyi,,,
Sebelumnya aku sempat bertekad mencari orang tadi. Tapi aku urungkan niatku. Akupun menuju taman belakang sekolah dimana ada dua temanku yang lagi dimabuk asmara. Aku tidak habis pikir. Mereka berdua berpegangan tangan erat. Padahal disekolah ada larangan berpacaran di areal lingkungan sekolah, jika tetap dilakukan akan dikenai poin. Tapi apa boleh dikata, aturan itu tak berlaku bagi mereka. Herannya lagi guru yang tahu hanya acuh tak acuh atau sesekali menegur saja. Pasangan ini layaknya kaki dan sandal, tanpa kaki sandal tak berguna dan tanpa sandal kaki tak ada apa-apanya. Keduanya tak bisa dipisahkan, sangat serasi membuatku semakin iri.
Setahun kemudian, kami naik ke kelas XI. Segala yang kami lalui di kelas X lebih tertuju kepada pelajaran sekolah dari pada kumpul bersama teman seperti dulu. Kami terlalu sibuk dengan urusan pribadi masing-masing. Hubungan persahabatanku dengan Davidpun kian merenggang dengan kehadiran Fanny didekatnya. Apa boleh buat, aku bisa berbuat apa, dia sudah terlalu sibuk dengan pacarnya. Namun yang membuatku terkejut dan tak habis pikir bahwa David tidak naik kelas. Hal ini membuatku bingung, apa karena dia selalu memikirkan gadisnya. Kemana-mana bersama Fanny, apa itu yang membuatnya sampai tak serius belajar hingga dirinya tak naik kelas. Aku masih banyak bertanya-tanya soal itu.
Hari ini pertama masuk sekolah setelah libur panjang. Rasanya senang bisa kembali bersekolah dan bertemu teman-teman lagi. Itulah perasaan seorang murid, ketika masuk minta libur, ketika libur pengen cepet masuk. Yah begitulah anak muda dari zaman ke zaman. Dari kabar burung yang kudengat, David kembali mengulang dikelas X namun ia memilih berpindah jenjang ke SMA. Mungkin kejuruan memang bukan keahliannya, walau itu tentang bisnis sekalipun. Saat aku ingin ke kelas, aku berpapasan dengan David.
“Hey bro, what’s up. Gimana kabar loe sekarang?”
“Biasa aja. O iya Sur nanti kita ketemuan di taman ya. Ada yang mau aku omongin.” aku menatap wajahnya yang nampak lesu dan tak bertenaga
“Oke. Nanti aku kesana.”
Aku meneruskan langkahku menuju kelas. Sesampainya didepan kelas aku meneliti satu per satu nama teman yang akan sekelas denganku. Dan disitu ada nama Lena dan Fanny. Aku juga menyadari bahwa dikelasku lebih banyak murid laki-laki daripada perempuan.
“Hai Surya duduk sama aku aja.” panggil seorang temanku yang dulu juga sekelas denganku
“Ya iya aku kesana.” aku menghampirinya dan duduk “Gimana libur kemarin. Pergi kemana aja?” Dia diam tanpa kata, dan ternyata dia bengong sambil melihat Lena yang kebetulan duduk didepannya. “Lu naksir ya” bisikku pelan. “Entar aku jadiin deh kamu sama dia.
Bel berbunyi menandai berakhirnya hari pertama. Menurutku kelasku sekarang lebih seru dan menyenangkan. Benar juga. Aku ada janji dengan David untuk ketemu di taman.
“Hei Vid. Kamu tahu gak aku sekarang sekelas sama Lena dan Fanny”
“Itu yang aku mau obrolin. Aku udah putus sama dia, karena orang tuaku mengharuskan aku fokus sekolah bukannya mikir pacar. Jadi dengan berat hati aku putusin dia.” jelasnya dengan wajah murungnya
“I’m sorry to hear that. Kalau kamu udah mutusin seperti itu, kamu harus buktiin kamu bisa berubah lebih rajin lagi belajar. Aku yakin suatu saat nanti ketika kamu sudah berhasil yang namanya perempuan seperti Fanny pasti datang dengan sendirinya. Yang terpenting dari semua itu adalah kamu harus bisa meyakinkan dirimu kalau kamu bisa berubah menjadi lebih baik. Jadiin semua ini pelajaran berharga buat langkahmu kedepan. Masa depan ada ditanganmu bukan Fanny atau siapa pun. Aku berharap kamu bisa menghadapi ini semua, jangan menyerah, perjalananmu baru dimulai. Semua tergantung padamu” kataku panjang lebar bagai kesambet Mario Teguh
Detik berganti detik, menit berlalu menit, jam terlewat jam, hari terlampau hari, bulan berjalan bulan, David menjadi seorang yang lebih dewasa. Dia sudah tidak memikirkan wanita lagi dan memusatkan dirinya untuk belajar sebagai kewajibannya menjadi siswa. Hebatnya dia mendapat peringkat yang baik dikelas. I’m proud of him, because he want to change his life into a good life. Semua itu karena kata-kataku waktu itu? Aku juga tidak tahu, kata-kata itu terlontar begitu saja sebagai penyemangat hidupnya, kalaupun berhasil itu murni kerja keras David. Kurasa David sudah tidak bermasalah lagi. Giliran teman sebangkuku yang punya masalah percintaan. So what i can do?
“Sur, aku mau ngomong sama kamu bentar”
“Kenapa sih pake acara narik-narik segala”
“Gini aku mau ngomong..”
“Ngomong ngomong aja. Ada apa sih?”
“Aku kelihatannya naksir Lena dech”
“Tuh kan apa gua bilang. Lu naksir dia kan.”
“Iya-ya jangan keras-keras entar ada yang denger”
“Ok. Terus apa yang mau lu lakuin”
“Nah itu yang aku lagi pikirin. Tapi belum ketemu caranya.”
“Gua janji gua bakal bantu lu sebisa gua”
“Makasih ya. Kau memang teman terbiak.. maksudku terbalik.. eh terbaik”
“Udah deh gak usah mulai lagi”
Aku bawa kalian menaiki mesin waktu menjelajahi masa depan. Ceritanya temen sebangkuku sudah deket banget sama Lena dan rencana dia mau nembak pas kerja kelompok.
“Hei udah dateng”
“Iya”
“Wah ada Surya juga. Kamu ikutan?”
“Dipaksa gitu sih. Tadinya aku gak mau tapi dianya maksa terus ya udah aku ikut.”
“Ooo, ya udah duduk dulu”
“Mmm, Len ada yang mau aku omongin serius”
“Ngomong aja”
“A-aku sayang sama kamu. Mau jadi pacarku?”
“Eee.. Thanks loe udah sayang sama gue. But sorry, aku sudah terlanjur jatuh cinta pada seseorang dan itu bukan kamu, tapi..”
“Oke aku ngerti kok. Makasih juga udah ngehargain perasaanku dan..”
“.. aku sayangnya sama Surya”
“Ooo.. what? Maksudku kamu sayang sama aku? Mm- nn- gg-“
“Aku gak nyangka jadi selama ini”
“Enggak aku selama ini cuma suka sama Fanny.”
“Aku kenapa aku? Aku bahkan jarang ngobrol sama kamu, masa kamu suka sama aku.”
“Tapi Sur, dulu kita kan yang buat Fanny dan David jadian, terus kamu malah suka sama dia.”
“Ini juga diluar kemauanku. Rasa ini bertumbuh begitu saja.”
“Sorry Surya. Sebenernya aku belum bisa ngelupain David yang dulu selalu sama aku. Lagipula aku juga gak punya rasa apapun sama kamu. I’m very sorry.”
“Yeah, i know. But can we be good friend?”
“Of course yes”
Masing-masing dari kami membuka rahasia kami di hari itu. Mulai dari perasaan temanku pada Lena, Lena padaku, aku pada Fanny, dan Fanny pada David. Sejak hari itu, sejak saat itu juga hubungan pertemanan kami sedikit memudar.
“Kenapa sih lu gak mau gua ajak omong bahkan sampe ngehindar gitu, ada yang salah ya?”
“Masalahnya bukan di kamu kok. Ini masalahku. Aku gak bisa jadi yang terbaik buat Lena. Sampe dia memilih kamu ketimbang aku.”
“Tenang. Gua udah janji sama lu buat jadiin lu sama Lena kan. Gua bakal tepatin.”
“Seriously?”
“Sure”
“Yang aku masih heranin adalah kamu suka sama Fanny. That’s so surprising me.”
“Soal itu, sebenernya gua gak serius. Gua cuma nyari alesan biar bisa nolak Lena. Secara gua seumur-umur belum pernah nolak cewek, apalagi tiba-tiba kaya gitu. Gua gak suka sama dia kok. (tunggu-tunggu berarti perasaanku sama Fanny gak beneran? hanya aku dan Tuhan yang tahu, lihat saja nanti)
“Oh gitu.”
STEP 1: MY FRIEND & HIS LOVE, LENA
Okelah kita anggap ikatan pertemanan sudah mulai berlanjut. Masalah baru datang lagi ketika David menemuiku.
“Kamu ada masalah apalagi sih. Kok masalah gak ada habisnya.”
“Maklum Tuhan sayang sama aku makanya nguji aku terus”
“Oke deh terserahmu. Sekarang apa masalahmu?”
“Aku udah hampir move on 100% dari Fanny dan berharap bisa fokus dengan pelajaranku sekarang. Tapi dunia tidak adil, rasa cinta tumbuh lagi kepada seseorang.”
“Seseorang? Siapa dia?”
“Dia temen sekelasku, juga temen sebangkuku. Dia baik banget, selalu bantuin aku belajar, jam istirahat ketika temenku yang lain asik sendiri dia mau nemenin aku. Dia selalu ada buat aku. Dan dia punya nama yang sama dengan mantan pacarku :(“
“Namanya Fanny. Fanny yang lain lagi. Ini jadi masalah berat.”
“Karena itulah. Aku mau pacaran lagi dan aku janji semakin giat belajar. Karena aku didampingi seorang yang selalu bantu dan nyemangatin aku sampai bisa dapat nilai yang bagus.”
“Begini deh. Gua bakal bantuin lu semampu gua. Tapi lu tetep harus nepatin janji untuk semakin rajin belajar.”
“Bentar ya gua mau tanya. Jadi Rista itu siapa ha.. ha..”
“Eh dia itu eh cuma selingan aja. Aku belum terbiasa ngejomblo. Tapi aku udah putusin dia dan sungguh-sungguh belajar.” (tidak salah dia dijuluki playboy sejati, kukira dia akan fokus 100% nyatanya setelah Fanny ada dua cewek lagi. Kzl.)
“Okelah”
STEP 2: MY BESTFRIEND & HIS LOVE, FANNY
Sekarang tinggal bagaimana caranya aku bisa mempersatukan temanku dan sahabatku dengan gadis pujaannya masing-masing sedangkan aku sendiri punya pengalaman dalam hal cinta. Menjodohkan David dan Fanny kala itu menurutku hanya suatu kebetulan dan sulit untuk terulang lagi. Lalu bagaimana aku bisa, ah sudahlah biar saja mengalir seperti air di hilir bergulir tanpa akhir.
Aku tenangin pikiranku dengan pergi ke sebuah mall. Hanya untuk sekedar ngademin otak yang lagi terbakar. Aku masuk ke tempat makanan. Aku mengambil snack dan cemilan yang dapat membantuku menjernihkan pikiran. ‘Maybe some popcorns’. Lalu aku mengambil minuman dingin dari lemari pendingin. Tak lupa aku melihat disebelah terdapat mesin pendingin tempat meletakkan es krim. Asal kalian tahu *itupun kalau kalian mau tahu* aku suka banget sama es krim apalagi merek yang satu ini, selain rasanya yang enak juga dapat promosi dvd menarik. Kembali ke laptop Lenovo-ku *eits nyebut merek*, aku membayar semua barang yang kubeli di kasir. Aku keluar dan mencoba memasukan uangku kedalam dompet, tapi selembar uang jatuh dari tanganku. Aku ingin mengambilnya dan kusadari ada tangan lain yang sama-sama memegang uangku. Tenang, dia bukan maling. Tenyata dia Fanny.
“Sorry tadinya aku mau ngambilin uang kamu”
“O iya makasih. Ehm kamu lagi apa disini?”
“Aku lagi bete nih. Daripada bengong dirumah mending jalan-jalan. Kamu sendiri ngapain? Bukannya jarak dari rumah kamu kesini jauh ya? Biasanya kamu paling males kalau jalan jauh.”
“Kok kamu tahu sih. Atau jangan-jangan kamu itu mentalist, bisa baca pikiran aku. Kaya Deddy Corbuzier gitu.”
“Ih apaan sih ngeledek. Lagian kan sekarang Deddy Corbuzier jadi host talkshow.”
“Iya juga ya. Kalau punya pacar bisa nebak-nebak gitu, pasti ga mungkin selingkuh.”
“Ya iyalah. Aku juga bisa lho nebak kejadian paling memalukan dalam hidupmu.”
“Ah masak! Waduh gawat, jangan kasih tahu siapa-siapa dong, kan aku malu jadinya.”
“Ih apaan sih. Aku gak serius kali. Aku cuma bercanda kok.”
“Huuh.. syukur deh kirain kamu bisa nebak beneran. Bisa nebak beneran.”
“Eh emang apa sih kejadian paling memalukan. Kok kamu sampe takut gitu.”
“Itu....”
FLASHBACK MODE: ON
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, memalukan berarti menjadikan malu. Malu sendiri berarti tidak enak hati. Itu artinya kejadian paling memalukan dalam hidupku adalah kejadian yang paling menjadikan aku malu. Mungkin kejadian waktu TK yang kualami adalah kejadian paling memalukan. Ceritanya waktu itu kelas kami kedatangan seorang bruder (laki-laki yang memilih tidak menikah). Aku yang masih lugu dan polos bermain asik dengan teman-teman diberhentikan dan dipanggil oleh sang bruder. Lucunya ternyata beliau ingin menutup resletingku (bahasa Indonesianya resleting apa ya?) yang ternyata terbuka. Aku malu sekali waktu itu, teman sekelasku semua menertawakanku. Belum habis sampai disitu. Resleting yang coba ditarik keatas tak sengaja menjepit ‘anu’ku. Aku kesakitan dan menangis diiringi teman-teman yang semakin kencang tertawa. Memalukannya lagi cerita ini diceritakan oleh mamaku sendiri ketika kami bertemu kembali dengan beliau, karena aku tidak ingat. Kamipun tertawa terbahak-bahak karena kejadian itu. Yup, mungkin itu kejadian paling memalukan.
Eits tunggu dulu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia lagi, memalukan juga berarti malu tentang sesuatu. Malu tentang sesuatu.. Oh iya aku ingat! Kejadian yang membuatku malu tentang Fanny. Waktu itu hari dimana pelajaran berjalan seperti biasa sampai akhirnya pelajaran bahasa Mandarin menyerang. Kebetulan aku duduk didepan dekat guru. Dan dibelakangku tepat ada Fanny yang cantik seperti biasa. Kejadian yang membuatku malu banget adalah ketika dia memegang rambut aku dan memain-mainkannya. Oh ya Tuhan, begitu besar berkat dan rahmat yang Engkau limpahkan pada hamba-Mu ini saat itu. Fanny memainkan rambutku cukup lama (bagiku), sekitar 3-5 menit. Dan tiap detiknya jantungku berdegup kencang tak karuan, hatiku berbunga-bunga, dan jika ada yang melihat wajahku mungkin mereka tahu kalau pipiku blushing. Aku tidak tahu motif dia apa, aku hanya bisa pasrah, bertanya-tanya, deg-deg sekaligus gembira.
FLASHBACK MODE: OFF
“Itu apa?”
“Eh itu.. kamu ga boleh tahu.”
“Kenapa sih. Kok aku ga boleh tahu.”
“Bukan gitu. Ini rahasia pribadi aku. Tapi aku janji cerita sama kamu kalau waktunya tepat.”
“Oke lah kalau begitu”
“By the way, kamu mau kemana sekarang?”
“Aku sih rencananya mau makan. Kamu?”
“Boleh juga tuh. Aku juga lagi laper. Makannya sama aku aja gimana?”
“Ya udah ayuk.”
...
“Kamu pesen apa?”
“Ga tahu. Aku kan belum pernah kesini. Kamu aja deh yang pilihin buat aku.”
“Oh gitu. Mmm.. pesen lele penyet aja gimana. Kata mama aku lele penyet disini enak banget. Tapi aku sendiri belum pernah cobain.”
“Itu aja. Kebetulan aku suka banget sama olahan lele.”
“Bagus dong. Ya udah lele penyetnya dua sama minumnya es teh manis dua”
“Fanny, tadi katanya kamu lagi bete ya. Bete kenapa?”
“Ga bete gimana? Sejak aku putus sama David rasa hidupku hampa”
“Ooo”
“Kok ‘Ooo’ doang sih. Kamu bantuin aku dong.”
“Gimana mau bantuin, aku juga harus bantuin David sama gebetan baru-“
“Apa? David udah punya gebetan baru?”
“Aduh keceplosan”
“Ga papa kok. Aku harus move on dari dia dan nemuin cowok yang lebih dari dia.”
“Bagus. Mak-maksudku sebagusnya begitu. Aku yakin kamu bisa dapet yang lebih dari dia” ‘dan semoga itu aku’
“Thanks ya saran kamu”
...
“Bener kata mama kamu. Lele penyet disini enak banget. Ini lele penyet terenak ketiga buatku.”
“Kok ketiga. Yang pertama dan kedua siapa?”
“Buatan mamaku dan istriku nanti”
“Ah kirain siapa.”
“Kakak-kakak ini pasangan ya? Kebetulan sekali kami dari *tiiit* Ice Cream memberikan diskon besar-besaran untuk pasangan khusus hari ini”
“Es krim? Es krim ku meleleh!”
“Kalau gitu kita mampir disini”
“Tapi kan kita bukan-“
“Ga usah dipikirin. Dia aja ga curiga”
“Terserah kamu aja”
“Ya udah ayo masuk” “Kamu mau es krim rasa apa sayang”
“Say-“
“Iya sayang. Kamu mau yang rasa apa?”
“Oh. Aku samain aja sama aku. Biasanya kan juga begitu.”
“Kalau gitu kita pesen dua es krim strawberry”
“Aku punya firasat ga enak deh”
“Udah nikmatin aja. Seolah-olah kita lagi kencan.”
“Tapi perasaanku bener-bener ga en-“
“Eh Surya, Fanny, kok kalian disini.. Oo kalian udah jadian ya. Sama dong aku sama Lena juga udah jadian.”
“Wait. Kita engg-“
“Wah sama dong. Aku sama Surya juga baru jadian”
“Congrats ya kalian berdua”
“Kalian berdua juga”
“Tapikan-“
“Kenapa sayang”
“Engga. Bukannya kamu Lena ga nerima dia waktu itu”
“Setelah aku deket sama dia, aku baru tahu dia baik banget sama aku. Perhatian, romantis, pokoknya sweet banget orangnya. Ehm. Fanny kamu dulu kan juga nolak Surya kok sekarang bisa jadian”
“Eh itu.. Mmm.. aku juga ga tahu. Perasaan ini timbul begitu saja. Ya gitulah”
“.. Selamat sore semuanya. Para hadirin dan hadirat yang saya hormati lagi saya cintai. Pada kesempatan kali, kami berkenan mengundang pasangan-pasangan yang ada disini untuk berdansa bersama. Dan kami akan memberikan empat tiket nonton ‘Negeri Van Oranye’ untuk satu orang pemenang guna double date dengan teman mereka yang juga berpasangan. ..”
“Len, kita ikut yuk”
“Ayo siapa takut. Gimana Fan, Sur, kalian ikut juga ya”
“Tapi aku”
“Udahlah sayang kita ikut aja”
“Ok”
“Ayo!”
“Aku ini ga bisa nari apalagi dansa. Kamu tahu kan?”
“Ga papa Sur. Aku ajarin kok.”
Kami berempat pun akhirnya berdansa bersama dengan pasangan-pasangan lainnya. Dan disaat pengumuman pemenang ternyata temanku dan Lenalah yang menang. Mereka mendapat empat tiket. Dua untuk mereka, dua untuk kami. Dan aku dan Fanny masih harus berpura-pura sebagai sepasang kekasih. Akhirnya kami berempat pergi ke bioskop yang terletak satu lantai diatas.
Film yang kami tonton adalah tentang persahabatan yang berubah menjadi perasaan suka kepada satu teman perempuan mereka yang sama-sama menimba ilmu di Belanda, Lintang (yang kebetulan aku ngefans sama aktris pemerannya). Setelah selesai menonton kami berpisah. Aku mengantar Fanny pulang.
“Makasih ya udah nganterin sampe rumah. Dan maaf tadi aku buat kamu jadi pacar pura-pura aku. Tapi hari ini aku seneng banget bisa kencan, eh maksudku jalan-jalan sama kamu. Aku jadi ga bete lagi dan bikin aku bisa move on sekarang”
“Ya sama-sama. Aku seneng bisa nemenin kamu seharian ini. Berhubung ini udah hampir malam aku mau langsung pulang.”
“Hati-hati dijalan”
“Salam buat papa, mama, sama adek kamu”
“Iya nanti aku sampein”
Keesokan harinya hari Minggu yang cerah. Aku bangun agak kesiangan. Bukan agak juga, sudah jam 9, tapi itulah kebiasaanku ketika libur bangun siang. Saat aku bangun dan ingin makan, mama memberiku undangan. Ternyata hari ini hari ulang tahun Fanny dan aku diundang ke pestanya. Aku panik. Aku tidak ingat, sehingga aku tidak menyiapkan kado apapun untuknya. Aku langsung menelpon Lena mencoba bertanya kado apa yang paling diinginkan oleh Fanny dan dia mengatakan kalau Fanny ingin sekali tas merah yang dijual tepat didepan tempat es krim kemarin. Aku langsung menghancurkan celenganku dan menghitung seluruh uangnya dan ternyata lebih dari cukup untuk membeli tas itu sesuai harga yang diberitahukan. Aku membeli barang tersebut dan meminta ibuku membungkuskannya dengan kertas kado. Sore itu, aku sudah bersiap pergi. Ketika ditengah perjalanan sepeda motorku mogok. Dengan tanpa berpikir panjang aku titipkan di toko bunga diseberang supaya aku bisa naik taksi secepatnya. Sesampainya disana aku sudah terlambat.
“Maaf, maaf aku terlambat” kataku sambil terenggah-enggah
“Oh jadi ini yang kamu tunggu-tunggu Fanny” tanya Mama Fanny
“Eh pacarnya sendiri kok telat sih” tanya Lena menyindir
“Tadi motor aku tiba-tiba mogok ditengah jalan. Tunggu, pacar?” sesaat aku bertanya, sesaat lagi aku terdiam, dan sesaat kemudian aku ingat dan aku yakin Fanny juga ingat bahwa Lenna tahunya kalau kita berdua pacaran.
“Oh jadi dia pacar kamu Fanny?” tanya Papa Fanny
“Jadi begini Om, Tante, semua aku bukan pacarnya Fanny. Kemarina aku cuma jalan sama Fannya dan dikiranya kita berdua pacaran.” jelasku “Dan sekarang didepan Om, Tante, dan semua yang hadir disini aku mau bilang kalau aku sayang sama kamu. Aku tahu kamu pernah nolak aku. Tapi perasaan ini ga pernah berubah, malah bertambah setiap kali aku bersamamu. Maukah kamu jadi pacarku, pasangan yang tidak hanya pura-pura” ungkapku sambil berlutut dan memberi bunga padanya
“Memang dulu aku pernah nolak kamu. Tapi itu dulu waktu aku belum mengenal kamu seperti sekarang. Sekarang aku tahu siapa kamu, seperti apa kamu, dan kamu udah berhasil buat hati aku bergelora saat bersamamu. Jadi aku mau jadi pacarmu.” jawab Fanny tanda bahwa Fannya menerimaku sebagai pacarnya.
Aku berharap hubunganku dengannya bisa saling melengkapi dan saling memahami satu sama lain. Ini adalah akhir ceritaku yang merupakan awal cintaku, tapi cerita ini belum benar-benar berakhir....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar