Cerpen Cinta Romantis - Best Date Ever by Aji
David, itu namaku. Sesosok manusia yang beranjak lebih dewasa. Selayaknya remaja lainnya, akupun tengah menghadapi masa pubertas. Aku sadar akan hal itu, karena memang banyak yang berubah dariku menuju lebih baik pastinya. Tanda-tanda aku lagi puber enggak cuma tambah tinggi tegap, tumbuh rambut di kaki maupun di tangan, kumis dan jakun yang mulai tampak, serta suara yang sudah memberat seperti papa aku. Namun ada yang aku belum pernah rasakan selama ini, jatuh cinta pada seorang cewe.
Fanny, yang membuat para malaikat bersedih saat bidadarinya turun ke dunia ini. Menurutku dia gadis yang cantik, manis, imut, gemesin, baik, ramah, perhatian, ah pokoknya idamanku banget. Aku sudah mengenalnya sejak kami kelas I SD. Saat itu aku sama dia masih biasa aja, maklumlah anak kecil belum tahu yang namanya cinta. Saat SMP lagi-lagi aku sekelas dengan dia. Tidak ketinggalan dengan kawan lama: Christa, Surya, Lena, dan Cindy. Meski baru kelas VII tapi aku laki-laki kedua dikelasku yang sudah punya pacar, namanya Cindy. Tapi hubunganku dengan dia enggak bertahan lama lalu akhirnya kita putus tanpa alasan yang jelas.
Kisah lainnya ada yang jadi musuhku atau lebih tepatnya memusuhiku, sebut saja Anto. Penyebab awalnya adalah kejadian saat kami bertanding basket. Anto memang jago main basket, sampai dia pernah menyabet gelar pemain terbaik sekota kita. Bahkan dia sempat menjalani seleksi timnas basket putra U-13. Lanjut ke masalah dimana tim kita sedang tertinggal jauh dari lawan. Performa Anto yang dianggap pelatih kurang memuaskan, akhirnya iapun ditarik keluar dan diganti oleh.. Aku?? Aku melihat ekspresi kemarahan tampak dari dirinya. Dia langsung berlari menuju arah pelatih.
"Apa maksudnya aku diganti, tim kita sudah tertinggal. Bagaimana jadinya kalau kaptennya dikeluarkan" bentak Anto penuh amarah menyelimutinya
"Keputusan sudah kuambil, David akan menggantikanmu" tutur pelatih memberi alasan
"Hah, aku diganti olehnya! Pikirkan nasib tim kalau pemain kelas teri macam dia dimasukan saat tim ada diambang kekalahan seperti sekarang ini"
Aku yang tak terimapun beranjak dari kursi duduk pemain di bench cadangan "Aaapa maksudmu. Kau memang hebat tapi jangan berani menghinaku ya!"
"Ini kenyataan. Fakta yang berbicara" omongannya makin membuatku terpancing emosi
"Ooo... jadi ngajak ribut lo ya..!!!"
"Cukup. Anto, kamu tidak bisa mengubah keputusan pelatih sedikitpun" Anto yang malas berdebat memilih berjalan menjauh meninggalkan riuhnya lapangan "Jangan pikirkan masalah tadi, fokuslah pada pertandingan." aku hanya mengangguk dan masuk ke lapangan. Sorak-sorai suporter terdengar jelas dari sini. Aku melihat sembari mencari-cari keberadaan Fanny diantara gerombolan manusia. Dan akupun menemukannya. Dia cantik sekali membuat jantungku berdetak kencang.
"Hey, jangan ngelamun dong" suara itu membuatku kaget dan tersadar dari lamunanku
"Yee.. siapa yang lagi ngelamun Sur"
"Udah ayo.."
Pertandingan akhirnya dimenangkan oleh timku, dan aku mencetak 10 angka tambahan. Dengan itu tim kami sukses menjuarai kompetisi dengan hasil yang sangat menggembirakan. Pada kala penerimaan medali berikut trofi aku tidak hadir. Aku hanya terduduk di kursi taman dekat sana. Hal yang tak terduga, yang membuatku bertanya pada diri sendiri 'mimpi apa aku semalam'. Fanny tertangkap indra penglihatanku sedang mengarah ke tempat dimana aku sekarang.
"Hei Vid, kamu kok tadi gak keliatan pas serah terima hadiah. Taunya malah ngelamun disini. Hayo ngelamun siapa tu... ah aku tau nih" katanya yang membuatku memotong ucapannya
"Apaan sih, siapa juga yang lagi ngelamun. Aku cuma lagi ada masalah."
"Cerita aja kalau ada masalah. Aku bisa jadi pendengar yang baik bagi curhatmu. Apa jangan-jangan soal kamu sama si Anto tadi ya?"
"Kamu memang kaya paranormal bisa nebak apa yang dipikirkan orang lain. Apa kamu belajar dari Deddy Corbuzier ya hahahaha" jawab sambil ketawa ngakak
"Itu muji apa ngeledek hah?" dengan tatapan membunuh
"Engga kok, just kidding" masih mesem-mesem nahan tawa "Oiya, kamu belum pulang?"
"Gini nih, keliatannya aku ga ada yang jemput. Papaku masih sibuk di kantornya, mamaku sedang ketempatan arisan jadinya repot" jelas Fanny
"Gimana kalau kamu aku anter aja. Tapi aku harus beli kebutuhan rumah dulu di minimarket"
"Ga papa asal ga ngerepotin aja"
Kemudian kami berdua menuju minimarket dekat rumahnya. Dia sudah kuajak ikut masuk tapi dia nolak. Akhirnya aku masuk kedalam sendirian. Seusai semua barang yang dibutuhkan telah terambil dan sudah siap menuju kasir, aku menengok ke samping dan terdapat pendingin yang berisi ice cream. Lalu aku terfikir untuk membelikan Fanny yang sedari tadi menungguku. Setelah semua barang telah dibayar akupun keluar.
"Gimana udah selesaikan?" tanya Fanny
"Udah kok. Tapi bentaran lagi ya pulangnya" bujukku membuat ia makin terheran-heran
"Napa emang mau pergi lagi?"
"Enggak, malah aku mau ngajak istirahat dulu sambil .." aku mengambil ice cream yang kubeli "makan es krim lumayan buat dingin-dingin ditengah matahari yang terik ini. Yang strawberry buat kamu, yang choco buat aku"
Aku dan dia akhirnya memilih beristirahat sambil menyantap ice cream kami. Aku yang iseng menggigit ice creamnya.
"Iiih, inikan es krimku kok kamu makan sih" sebelah alis terangkat keatas
"Heheehe aku cuma pingin ngerasain aja"
"Tuhkan gara-gara makan punya orang mukanya cemot semua" Fanny mengambil sesuatu dari kantung celananya, sebuah sapu tangan. DEG dia mengusap sekitar bibirku yang terkena ice cream. Tiba-tiba saja jantung ini tidak bisa dikontrol lagi, berdetak kencang tidak beraturan. Rasanya dag-dig-dug seerr..
Hiyuuh.. hari yang menyenangkan. Karena takut kesorean, Fanny mengajakku bergegas pulang. Ditengah perjalanan, hatiku masih saja berdegup gak karuan. Ditambah dia menggengam erat badanku dengan tangannya yang lembut ooww...
"Vid, David, Viiid!" Ah, lagi-lagi aku ngelantur gak jelas "Dipanggilin bukannya nyahut kek nengok kek ini malah bengong di siang bolong"
"Aa,, ee.. iya iya maaf, kamu tadi mau ngomong ya, ngomong apa?"
"Emm ini, dari sini terus ada pertigaan belok kanan, habis itu tinggal lurus rumah nomor 110" jelas Fanny padaku
"Ooooh.. oke dech"
Kamipun tiba didepan gerbang rumahnya. Terdengar bising akan bunyi para ibu. Ya, arisannya sudah mulai
"Tuh keliatannya udah mulai, ikutan gih" ledekku
"Enak aja emang gua mak-mak apa" katanya tak terima
"Lah itu sadar hahaha" tawaku makin menjadi. "Adu,, duh.. sa-kit.. sa-ki-t" karna saking jengkelnya, Fanny menarik telingaku dua-duanya
"Rasain biar tau rasa" kemudian dia melepaskan tarikannya "Kan sekarang udah kaya kuping gajah, apa perlu hidungmu kubuat belalai hehe.."
"Ampun.. ampun aku minta maaf deh"
"Kali ini aku beri pengampunan tapi lain kali awas!" "Ya udah aku masuk ya, hati-hati di jalan daaaaa"
Sesampainya dirumah..
"Baru balik? eh kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya mama melihatku datang dengan senyum lebar
"Ngga ada apa apa. Aku masuk kamar dulu ya"
Pada malam harinya, entah mengapa aku tak bisa tidur. Bayangan Fanny selalu menghampiri diriku. Tiap senyumannya menghiasi indahnya hari ini. What a great day. Ditengah khayalanku tiba-tiba saja handphone yang sejak tadi tersimpan dijaketku bergetar. Langsung kuambil dan kubaca isi pesan singkat yang dikirim seseorang dengan nomor yang tak kukenal
From: +628xxxxxxxxxx
"...ini bener nomernya David bukan?..." 'siapa ya?' batinku bersamaan saat aku balas dengan menanyai nama pengirim.
DREET DREET 'pasti balasan'
From: +628xxxxxxxxxx
"...tebak dong kira-kira aku ini siapa coba?..." aku kembali membatin 'ni orang jangan-jangan iseng'
To: +628xxxxxxxxxx
"...sorry, gw gk k'nal..."
Belum berapa lama, kedengaran suara nada dering tanda ada panggilan masuk. Mungkin orang jahil tadi. Karena penasaran akupun menekan tombol 'accept'
"Halo siapa ini ya?" " Ngenalin suara aku nggak?" "Ini Fanny bukan?" "Bisa jadi" "Bisa jadi?" "Cuma bergurau. Jawaban Anda benar" "Wih dapet hadiah dong" "Besok ya, mau di kuping ato idung" "Eits, tidak lagi" "Hehehe" "Nemu dimana nomer hape aku" "Aku kan detektif sekaligus mata-mata yang handal. Masalah cuma nomer handphone mah kecil buat aku. Aku aja tau kamu lagi ngapain?" "Hah!? Seriusan loe?" "Ya iyalah, kamu pasti lagi telpon-telponan. Kan?" "Gitu aja anak TK juga tau Fan.. By the way, nelfon gua cuma buat basa-basi doang" "Oiya sampe kelupaan. Gini, aku minta kamu hadir di acara dance competition. Group aku bakal berpartisipasi disana." "Hmm, kapan aku harus datang?" "Besok. Sebenernya dimulainya pukul 9 tapi berhubung ada GR dulu jadi sekitaran jam 7 an lah" "Perlu aku jemput" "Aku bareng keluargaku" "Siiap boss"
Keesokan harinya,,,,
"Kak, bangun kak udah siang loh"
"Apaan sih aku masih ngantuk banget. Nanti aja jam 6 an"
"Kakak mau tidur ampe sore. Sekarang jam 10 lewat"
"AAPAAA...!!!!"
Bagaimana aku bisa telat bangun. Padahal seumur hidup aku pasti bangun pagi, mentok ya jam 6. Ini malah kebablasan, apa sebab aku begadang kemarin ya. Lupakan!! Aku harus bergegas siapa tahu dia belum perform atau acaranya molor. Aku menyetir dengan kecepatan tinggi pokoknya harus tancap gas. Akhirnya aku telah sampai di gedung yang dikatakannya. Dan aku melihat ada Lena, teman Fanny yang juga ikut lomba. Aku menghampirinya dan mencoba bertanya dimana Fanny.
"Hai Len, aku mau nanya. Kamu liat Fanny gak?"
"Setelah dia selesai tampil dia langsung cabut. Dia bilang sedang tidak enak badan." cerita Lena padaku "Memangnya kenapa Vid, tumben nyari Fanny?"
"Bukanlah hal yang penting. Sudah ya. Byeee" aku meninggalkan gedung itu.
Sampai diluar aku merogoh saku dan mengeledahnya. Haduuh, pas gawat darurat tu HP malah ngilang. Terpaksa aku harus pulang dulu. Setibanya di rumahku,..
'Ah, ketemu'
To: +628xxxxxxxxxx
"...Fan, gue mau minta maaf. Aku tadi kesiangan bangunnya jadi bisa dateng. Pas aku kesana kata Lena kamu cabut duluan. Apa bener kamu lagi sakit?..." kemudian aku klik 'send'. Aku menungu, terus menunggu, entah berapa waktu telah aku buang hanya untuk menunggu sampai akhirnya..
1 message received
From: +628xxxxxxxxxx
"...perkara itu engga perlu dibahas..." Ya ampun, aku digantungin. Antara maafin atau cuekin, antara kecewa atau memang mau istirahat. Akibatnya kami berdua tidak berkomunikasi untuk beberapa lama. Saking galaunya, aku jadi kepikiran untuk meluapkan semuanya di Facebook. Saat aku membaca status teman dunia mayaku. Aku tersadar hari ini perayaan Tahun Baru Imlek. Raut wajah yang lesu berubah jadi sumringah. Aku membiarkan laptopku menyala dan berjalan menghampiri ruang makan. Aroma sedap masakan China terasa dari kejauhan. Sehabis sarapan aku kembali ke kamar, memperhatikan laptop yang lupa ku matikan. Ketika aku menatap layar selebar 14" inchi tersebut, ternyata ada yang mengirim permintaan pertemanan. Saat kubuka alhasil yang nampak hanya 'Fanny'. Oow jadi ini akun Facebook-nya. Aku membuka halaman depannya, melihat foto dirinya yang dipasang sebagai foto profil dan seperti hidangan imlek sebagai foto sampulnya dan selanjutnya.. Saat ini Fanny ONLINE. Buruan aku buka obrolan.
[ Gong Xi Fa Chai ]
[ Hmm ]
[ Cuma hmm doang nih ]
[ Ya iya sama-sama ]
Lalu..
'Fanny aktif baru saja' itu tulisan menandakan dia sudah log out. Sial! Daripada diam mending aku liat album foto Fanny. Semua isinya koleksi potret dia mulai dari selfie, bareng temen, saudara serta orangtuanya. Setelah asyik menjelajahi foto yang ia upload, aku berkeinginan menelusuri aktivitasnya baru-baru ini.
Fanny . 2 jam yang lalu
Happy Chinese New Year
Like . Comment . Share
Fanny . Kemarin pukul 21:49
Saatnya bobo cantik
Like . Comment . Share
Fanny . Kemarin pukul 17:23
14 hari menjelang Valentine, aku berharap bisa mengumpulkan banyak coklat
Like . Comment . Share
Tombol jempol terus aku tekan untuk setiap statusnya.
SKIP TIME to February 13th
Aku benar-benar engga pernah ngobrol lagi dengannya. Dia seperti menghindar dariku, tidak mengharapkan kehadiranku. Esok merupakan hari yang tepat untukku meminta penjelasan darinya atas perlakuannya padaku.
Ketika matahari mulai menampakan sinarnya,,,
Di kelas sudah mulai ramai dengan murid yang lalu lalang di lorong sekolah. Aku menapakan kaki selangkah demi selangkah sambil memberikan cengiran dan sapaan hangat kepada semua teman yang kujumpai. Belum sampai masuk kelas aku sudah ditabrak seseorang yang berniat keluar kelas. Kami sama-sama mengelus jidat yang hampir benjol dan mengerang kesakitan.
"Maaf" lirih orang itu
Aku sedikit mendongakkan kepala "Lena" ternyata dia sudah menatapku terlebih dahulu. Aku berdiri dan membantunya berdiri.
"Ma-makasih" ucapnya dengan.. tergagap, tidak biasanya Lena bicara tersendat-sendat "Vid a-aku punya se-sesuatu yang spesial buat ka.. ka.. mu"
"Yang tenang kali ngomongnya. Tarik nafas.. buang.. ulang... Santai kaya di lantai vila deket pantai jangan kaya orang dibantai pake rantai" mendengar leluconku yang jayus itu diapun tersenyum
"Nah. Ini coklat aku buat sendiri diajarin sama mama aku. Aku khusus peruntukkan cuma buat kamu"
"Cuma buat aku? Iya juga masa coklat satu dikasi kebanyak orang. Yah maklumlah providernya lola dengan kecepatan transfer data yang lemot hehe" sekali lagi aku melucu dengan banyolan yang sangat amat standard
"David, gua serius. Ini sebagai bukti cintaku padamu. I love you" tatapannya sungguh serius. Tiba-tiba aku tersenggol oleh orang yang tak kukenal. Aku yang tak sempat mengembalikan keseimbangan tubuhku akhirnya menjatuhkan tak hanya aku tetapi Lena juga. Dan bibir kami bersentuhan. Aku ingin segera bangkit namun ada yang menahanku. Lena? Sekuat dia menahanku, dia tetap kalah. Banyak yang melihat kejadian tadi , ada yang tepuk tangan bahkan bersiul. Tapi aku tak peduli. Aku menjauh dari kerumunan siswa dan menjumpai Christa dan Cindy. Ups,.. jangan langsung menyimpulkan, mereka berdua itu saudara meskipun jauh.
"Slamat pagi Master Poin Mencari Cinta" sapa Christa. Aku memelototinya setajam ujung pedang. "Napa? Apa aku harus bilang 'Hendra', 'kun-kun', 'cobang', atau mungkin 'playboy sejati'" Yupz semua itu julukan serta nama anehku di kelas.
"Bodo ah gua lagi buru-buru banget" aku sebaiknya tetap konsentrasi
"Kalau buru-buru ada tuh ama paru-paru" mungkin ini yang buat aku putus sama dia. Jayusnya ga pernah berkurang malah nambah terus
"Bilang : "Aku gak lucu gitu" "
"Aku gak lucu gitu hahahaha" dasar kakak adik 'setali tiga uang' sama-sama aneh. Anggap scene itu Selanjutnya aku harus cari ditaman belakang sekolah. Dugaanku benar, dia ada disana. Tapi apa aku salah liat. Bidadariku menitihkan air matanya yang berarti bagiku. Siapa orang hina yang berani membuat malaikat cintaku menangis? Kalau sampai aku tahu, akan ku jadikan perkedel. Aku memutuskan mendatanginya dan menaruh pantatku diatas benda yang terbuat dari bahan kayu jati tua yang kuat. Tiba-tiba saja seseorang menarik tanganku dari belakang. Ketika aku berbalik ternyata Surya yang menggengam tanganku. Ia membawa kami jauh dari Fanny. PLAAAKK Apa-apa nih dia main tampar muka orang seenak udelnya.
"Keparat lu. Gua kira lu suka sama Fanny. Tapi malah lu yang buat dia nangis" JLEEB Whaat?! Jadi aku sumber masalahnya "Dia liat lu lagi ciuman berdua sama Lena. Gua liat dia langsung lari sambil ngeluarin tetesan kepedihan. Lu memang ga punya perasaan!" bentaknya padaku. Sebelumnya dia tak pernah sekalipun membentakku
"Sumpah itu gak ada unsur kesengajaan. Ini semua cuma salah faham"
"Ya lu jangan jelasin ke gua. Kasi penjelasan ke dia, siapa tau dia mau denger" setelah itu Surya pergi meninggalkanku sendiri. Termenung dalam kesunyian. Mengintrospeksi diri apa yang harus kulakukan sekarang. Dan keputusan yang keluar hanya menemui Fanny. Aku langsung melesat dengan speed maksimal. Tepat saat aku ditempat tadi sudah ada Surya dan Lena disamping Fanny dan mereka tampak sedang ngempet ketawa. Apa sih yang sebenarnya terjadi?
"Kita udah kaya patung nunggu loe kelamaan"
"Bener kata Lena, kita udah kayak patung berdebu" sahut Surya. Aku bingung dibuatnya. "Sesungguhnya seluruh kejadian tadi itu rencana gua ama Lena. Dan hasil kesimpulan gua, lu ama Fanny itu cocok 100%. Udah jadian aja sekalian"
"Resek loe berdua komplotan ngerjain gue. Parah deh"
"O, gue lupa dipanggil Pak Kurnia tadi" pake trik basi buat kabur
"Kok bisa lupa yah, gua kan juga" ini orang saja gak ada bedanya "Byee..." "Daaa.." . Sesaat setelah mereka pergi, lagu keheninganpun diputar dengan iringan suara jangkrik dan kodok. Sampai suara Fanny menyetopnya
"Mau terus berdiri disitu" lalu aku duduk disampingnya
"Aku mohon maaf soal yang tadi.."
"Lupakan saja. Lagian itukan cuma peristiwa yang gak disengaja"
"Soal yang dulu-dulu.."
"Lupakan saja. Lagian itukan cuma masa lalu yang sudah terlampaui"
"Intinya kamu maafin aku nggak"
"Enggak."
"Kok enggak?"
"Enggak punya alasan buat enggak maafin kamu"
"Hah, syukurlah. Jantungku hampir copot seketika" "Tunggu sebentar yaa,, ini dia. Coklat ini buat kamu semoga kamu suka. Tapi aku ga bisa ngasi kamu banyak yang kayak kamu mau, wajarlah kanker kantong kering, bokek duit cuma tinggal cring cring"
"Bukan hal yang berarti. Coklat ini salah satu favorit aku. Thanks very much"
"Ada satu lagi.." kebeneran disebelah bangku ada bunga aku petik ah. "Aku ingin menyatakan perasaanku padamu. Setiap kali bersamamu aku merasa senang. Tiap kulihat senyumanmu hatiku selalu mengatakan satu hal yang sama.......... I LOVE U, WILL YOU BE MY GIRLFRIEND?"
"Kalau kamu beneran sayang sama aku. Kamu sabar tunggu jawabannya pas perpisahan sekolah"
"Kalau memang itu keinginanmu, aku bakal sabar menantimu"
SKIP TIME
14th March => Hari ini White Day. Saat dimana perempuan akan memberi laki-laki coklat seperti yang dilakukan sang laki-laki padanya kala perayaan hari Kasih Sayang. Sama seperti kebanyakan gadis, Fanny juga memberiku cokelat putih. Namun tak cuma Fanny, gadis lain yang ga aku beri coklat ada yang ngasi aku. Karena aku menghargai niat baik mereka ya aku terima saja. Tur juga ga ada ruginya
16th August => Tepat hari ini Fanny berulang tahun. Aku datang pagi-pagi sangat kerumahnya. Berniat mengajaknya jalan. Alhasil, kami menghabiskan seharian penuh berdua. Mulai dari sarapan di restoran kegemarannya, keliling kota, nonton bioskop, pergi ke danau, sampai puncaknya saat pesta perayaaan hari jadinya. Disitu aku menghadiahinya sebuah jam tangan yang selama ini dia inginkan
20th August => Berselang empat hari kemudian. Giliranku memperingati hari ulang tahunku. Aku harap kedepannya bisa lebih baik dan makin dewasa apalagi dengan cinta. Aku penasaran surprise apa yang akan terjadi nanti? Dibuka kejutan yang diberi keluargaku, guru dan teman-temanku. Ada yang memberi ucapan selamat, kue tart, kado, bahkan tepung, telur, dan air dilempar kearahku. Menyenangkan? Tidak, aku tidak mendapat kejutan dari Fanny. Aku terus memikirkannya di halaman depan rumahku. Berbaring di atas rerumputan hijau yang melambai-lambai karena besarnya angin malam. Tiba-tiba... Orang yang kutunggu datang sembari membawa kue ulang tahun dengan lilin yang jumlahnya sama dengan umurku sekarang. Saat kutanya mengapa malam begini, jawaban yang kudapat darinya adalah sebab aku pertama kali keluar ke bumi. Akhirnya dia memberiku kado sebuah sepatu sepakbola yang aku impikan sejak dulu.
25th December => Dalam rangka perayaan Natal, sekolah kami mengadakan tukar kado. Lelaki memberi kado kepada perempuan dan sebaliknya. Aku menyiapkan sebuah bando berwarna merah. Saat acara dimulai, kami diharuskan mengumpulkan kado tersebut dan akan dibagi oleh para guru. Mungkin kebetulan atau sudah takdir, aku dan Fanny bertukar kado. Kubuka kotak yang bergambar Minion, salah satau karakter kartun favorit. Didalamnya terdapat satu kotak lagi. Kubuka lagi bagian penutupnya dan aku terkejut. Muncul Santa Claus dan rusa mengucapkan "Merry Christmas"
31th December => Mumpung keluargaku dan keluarganya enggak libur kemana-mana aku ngajakin dia pergi alun-alun. Yah, town square gitu lah. Banyak hal yang aku lakukan bersamanya. Makan kembang gula, naik komedi putar dan biang lala, meniup gelembung dan masih banyak lagi. Pada tepat jam 12 tengah malam, kembang api bertebaran di langit hitam. Menandakan kami akan menjalani tahun yang baru bergulir
On this year => Kami kembali merayakan Imlek, Valentine, dan juga White Day berdua. Seru pastinya. Para jombloers patut iri pada kami
One day on May => Seusai kami menuntaskan tugas, Tryout, UTS, UAS, Ujian Sekolah, Ujian Praktek, UN, maupun tes masuk sekolah, kami mengadakan acara perpisahan sekolah. Aku bersama teman-teman menampilkan band bernama 'Taka'. Terdiri atas aku berperan sebagai pemain keyboard sekaligus penyanyi, Chista sebagai drummer dan leader, Bob sebagai bassist. Bermain dengan musuh?? Aku sudah berbaikan dengannya hampir setahun yang lalu. Dan pahlawan kala itu adalah Fanny. Kembali ke performance, kami menyajikan 2 lagu: Whataya dan The Reason.
Tak hanya aku, group Fanny juga ambil bagian. Menampilkan modern dance ala girlband k-pop. Kalau boleh bohong dia cantik banget hari ini (bo'ong aja masih muji gimana jujurnya). Setelah itu, kami sekelas mempersembahkan sebuah drama bertema tentang seorang anak {Surya} yang menyukai seorang cewek {Lena} tapi tidak disetujui kedua orang tuanya {David & Fanny} lantaran perbedaan status sosial. Atas bujukan kedua saudaranya {Christa & Cindy}, keduanya akhirnya setuju. Seelanjuutnya, ada dansa bersama. Akupun mengajak Fanny untuk menjadi pasanganku. Kemudian, ada pengumuman pasangan paling romantis dan kami berdua yang terpilih. Setelah itu kami kembali ke backstage. Aku menarik tangan Fanny menuju keluar ruangan.
"Apa kamu udah siap ngasi jawaban itu ke aku?" tanyaku to-the-point tanpa basi-basi
"Jawaban? Jawaban apa?" dia malah balik nanya. apa dia lupa?
"Tentang perasaan kamu ke aku?" kataku memperjelas
"Eh, hape kamu di silent kan? Ubah gih" dia seperti mengalihkan pembicaraan
"Tapi....."
"Udah lakuin aja. Kan siapa tahu ada yang mau urusan sama kamu"
"Ya deh" kubuka hapeku dan ada satu pesan masuk di FB-ku. Isinya...
Fanny . aktif 5 menit yang lalu
Sebenernya aku juga cinta sama kamu <3
Dikirim melalui BlackBerry 5 menit yang lalu
"Jadiiiiii.."
"Ya, aku mau kok jadi kekasihmu"
"Ye.. yess.. akhirnya aku punya pacar yang bener sayang sama aku" aku senang sesenang-senangnya mungkin dari sekian tanggal di diary (buku harian) aku, ini yang terbaik "Boleh aku minta.." sambil memonyongkan bibirku
"Boleh saja, tapi jangan lama-lama"
Setelah itu, aku dan dia sah menjadi pacar dan sekolah di tempat yang sama. Hanya saja aku berada di SMK namun dia ada di SMA.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar