Selasa, 29 Maret 2016

Cerpen Cinta Romantis - Best Date Ever 3: Next Steps To Be Popular (Part One, Vol. 1) by Aji


“Sayang, kamu mau bawa aku kemana sih?”
“Tunggu, tunggu ya. Nanti kamu pasti tahu kok.”
“Ih.. Kamu bikin aku penasaran.”
“Namanya juga kejutan.”
“Kok lama sih, gelap nih.”
“Aku buka ya..”
“Wah, cantik banget. Kamu sendiri yang nyusun bunga jadi bentuk hati?”
“Jelas dong.  Valentine ini aku mau ngasih kamu sesuatu yang nunjukin perasaanku ke kamu. Selalu berbunga-bunga di hati.”
“Sayang”
“Ada apa sayang?”
“Kamu tahu sebentar lagi kita kan ada ujian. Jadi aku ingin kita fokus dulu sama belajar. Mungkin kita nanti lama gak ketemu..”
“Ssstt.. Kita pasti ketemu nanti. Tapi sekarang kita memang harus giat-giatnya belajar. Ujian tinggal sebentar lagi, jadi gak usah mikirin aku dulu. Fokus belajar aja sayang.”
“Kamu memang paling ngertiin aku. Aku makin cinta deh sama kamu.”
“Tapi cintamu belum bisa mengalahkan cintaku padamu.”
Surya dan Fanny sudah terhitung 3 bulan berpacaran. Makin hari mereka nampak makin mesra. Surya yang sangat menyayangi Fanny selalu memberikan support dan semangat, namun tidak pernah menggangu aktivitas belajar Fanny. Mungkin memang Surya adalah laki-laki yang tepat bagi Fanny, bisa membuat dirinya semakin semangat dalam belajar. Dengan berpacaran, Surya juga tidak pernah melupakan waktu untuk belajar. Memang pasangan yang sangat cocok dan ideal, karena saling mengerti dan saling melengkapi.
Namun berlanjut dari cerita sebelumnya, bahwa kisah cinta Surya belum benar-benar berakhir, membawa Surya pada pilihan sulit. Kisah cintanya kali ini akan dipenuhi oleh hal-hal baru seperti dunia politik, sejarah, ilmu pengetahuan, pertempuran, dan masih banyak lagi. Kekagumannya pada seorang gadis menimbulkan benih cinta yang baru. Akankah benih cinta ini tumbuh layaknya benih pertama, atau bahkan mampu mengungguli tumbuhnya benih pertama, atau mungkin benih baru menghilangkan benih yang lama? Siapa yang akan Surya pilih, pacarnya atau gadis yang dikaguminya?
“You must take the next step on your popularity.” nasihat David
“Aku seperti pernah mendengarnya dalam sebuah film..” pikir Surya
“Oh tentu tidak. Kata-kata itu baru terlintas dipikiranku.” elak David
“Kamu sadar tidak, walau beberapa bulan tapi kita sudah banyak berubah dari segi perkataan dan sikap.” kata Surya
“Mungkin kamu benar. Kita sudah jarang menggunakan kata-kata yang biasa kita sebut, bahkan julukan-julukan kita sudah mulai kita lupakan.” tambah David
“Kembali ke perkataanmu tadi, apa maksudnya?” tanya Surya balik
“Aku tahu rahasiamu yang tidak Fanny ketahui.” jawab David membuat Surya tersentak
“Hah? Rahasia? Rahasia apa?” tanya Surya kebingungan
“Aku tahu idolamu satu-satunya di dunia ini.” jelas David
“Itu.., dari mana kamu tahu? Aku bahkan tidak pernah mengatakannya sekalipun kepada siapapun.” Surya semakin kebingungan
“Dari diary-mu yang tertinggal waktu kita berbicara di taman kemarin.” jawab David
“Oke aku ketahuan. Lalu apa yang kamu mau? Memberitahu Fanny lalu dia memutuskanku dan kamu bisa balikan dengan dia, hah?” tanya Surya mulai emosi
“Tenang kawan. Aku tidak sejahat itu. Lagipula aku sudah move on dari dia dan aku tidak mungkin merebut pacar dari sahabat terbaikku.” kata David
“Lalu?” Surya masih tetap kesal
“Kamu tahu pacarku, Fanny. Dan aku sekarang sedang dekat juga dengan anak kuliahan namanya kak Ana. Kamu juga bisa melakukan seperti yang aku lakukan.” goda David
“Aku bukan playboy seperti kamu, Playboy Sejati.” ejek Surya
“Kukira kita sudah melupakan julukan semacam itu.” David merasa tersindir
“Aku tidak akan melupakan sesuatu yang berarti bagiku.” kata Surya
“Maka dari itu, apa kamu mau melupakan idolamu untuk bersama Fanny?” tanya David kembali
“Aku tidak mau meninggalkan Fanny.” tegas Surya
“Aku tidak memintamu meninggalkannya. Aku hanya memintamu memperjuangkan kekagumanmu pada idolamu itu saja.” bantah David
“Apa itu bisa?” kata Surya ragu
“Tentu bisa. Kamu pikir mengapa aku melakukannya.  Kamu hanya perlu menunjukkan sesuatu yang istimewa kepada idolamu itu. Itu akan membuatnya terkagum-kagum padamu.” tegas David
“Akan aku tunjukkan sesuatu padamu.” ajak Surya
“Kenapa kamu justru mau melihatkannya padaku? Aku bukan bagian dari LGBT.” balas David
“Sudah ikut saja.” paksa Surya
“Woow, benda macam apa itu?” David  terpukau melihat sesuatu yang ditunjukkan Surya
“Aku sudah mempersiapkannya cukup lama.” jelas Surya
“Idolamu itu pasti akan menyukainya.” kata David yang masih terpukau
Surya semakin sibuk menyelesaikan proyeknya, disamping dia harus belajar untuk menghadapi ujian. Proyek yang diciptakannya melebih kemampuan berpikir dan bereksperimen seorang pemuda berusia 17 tahun. Segala sesuatunya telah dipersiapkan, sejak dia mengenal tokoh idolanya dan ingin memberikan sesuatu yang sangat berkesan di hati idolanya. Mungkin semua yang hal-hal manis dan romantis yang pernah ia berikan kepada Fanny tidak ada apa-apanya ketimbang proyeknya yang satu ini. Surya benar-benar bekerja keras siang malam, tanpa henti berusaha menyelesaikan mahakarya. Pertanyaannya apa proyek itu? Terlebih siapa idola yang akan diperlihatkan proyek itu?
“BREAKING NEWS. Beberapa pejabat di Pemerintah Kabupaten Madiun diculik oleh pihak yang belum diketahui. Sampai saat ini pihak Kepolisian RI masih mengusahakan untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya untuk menjelaskan tentang hilangnya para pejabat tersebut. Seorang teman kerja dari pejabat yang hilang tersebut mengatakan bahwa tidak ada tanda apapun yang terlihat dari temannya. Menurutnya, kejadian ini bukan masalah pribadi namun masalah yang dibuat kelompok tertentu untuk mengacaukan kota.”
“Kamu mendengar beritanya kan?” tanya seorang penelpon.
“Tentu. Aku sudah melakukan penyelidikian.” jawab orang yang sedang ditelpon
“Apa yang kamu dapatkan dari sana.” tanya sang penelpon lagi
“Bukti besar yang tidak diketahui oleh polisi. Aku menemukan sebuah tanda di lantai salah satu tempat kerja korban. Di lantai yang berwarna putih itu aku melihat warna biru dan merah secara horizontal.” jelas si orang kedua
“Tanda itu berarti apa?” tanya orang pertama penasaran
“Awalnya aku juga tidak mengerti, namun setelah aku ingat lagi warna-warna itu adalah bendera Rusia.” jawab sosok misterius yang seperti penyelidik
“Ini bukan waktunya bercanda.” ragu sosok yang tak kalah misteriusnya
“Aku kira itu hanya lukisan iseng dari anak yang mungkin dibawa korban ke kantor. Tapi aku pastikan tanda itu baru dibuat dan yang membuatku yakin bahwa penculiknya sengaja meninggalkan tanda itu adalah bahan yang dipakai untuk membuat tanda tersebut. Orang tersebut pasti memakai spiritus untuk warna biru dan darah untuk warna merah. Spiritus sendiri adalah campuran alkohol dan metanol dalam persentasi kecil namun beracun.” jelasnya
“Penyelidikanmu luar biasa. Namun dampak yang akan ditimbulkan oleh sang penculik akan lebih luar biasa dan tidak terduga. Dia bisa saja tidak hanya mengancam keamanan kota, namun juga negara. Apa kamu tahu di sisi mana ia berada, kepentingan pribadi, kelompok, atau negara?” tanyanya sekali lagi
“Aku tidak tahu, itulah yang sedang aku cari tahu.” balasnya
“Saatnya kamu meng-upgrade dirimu.” ucapnya
Keadaan kota, bahkan negara sedang terancam oleh kehadiran penjahat baru yang diperkirakan muncul dari tanah Rusia. Secara teori, Rusia tidak punya dendam tersendiri atas negara Indonesia, terlebih lagi sekarang Rusia bukan negara yang sepenuhnya menganut paham komunis. Siapakah pelaku dibalik semua ini?

Jumat, 18 Desember 2015

Cerpen Cinta Romantis - Best Date Ever 2: Steps To Be Popular by Aji


Melihat seorang sahabat kita menemukan tambatan hatinya, kita patut turut gembira. Tapi yang kurasakan justru berbeda. Aku makin galau karena aku ditinggal sahabatku mendapat 'perfect girl'-nya sedangkan aku hanya bisa menunggu malaikat menurunkan bidadari bagiku. Sebelumnya perkenalkan *mungkin dah pada kenal* namaku Surya. Dan sahabat terbaikku tadi boleh dipanggil David dengan titel yang dibawanya sebagai 'the most pupolar student in the school'. Penghargaan itu diraih bahkan sejak Masa Orientasi Siswa yang menandakan begitu ternamanya dia, piawai menari, bernyanyi, bermain musik; seorang olahragawan muda; memiliki jiwa di dunia theater dan terkenal sebagai cowok cool, riang, nan romantis. Udah aja perkenalan singkatnya gak perlu berlama-lama.
Yah, seperti hari kemarin, dan kemarin lagi, dan kemarinnya lagi *hah lamak* ^^v aku bergegas untuk berangkat sekolah. Setelah sarapan pagi, aku mengambil tas hitam diatas meja ruang keluarga dan pamit kepada orangtua. Saat aku hendak berangkat, ringtone hapeku berdering penanda adanya telfon masuk. Aku angkat panggilan dari kawan karibku, David.
"Hei napa pagi-pagi udah nelfon, kangen yaa"
"Idiih gue masi waras kali. Gue lagi butuh bantuan loe nih. Motor gue mogok jadi gue nunut kamu aja, Pleaseee"
"Kalo gitu si Fanny gimana? masa bonceng bertiga?" Oiya Fanny itu pacar barunya David
"Loe cukup nganterin sampe rumahnya pas disana aku ajak dia naik angkot"
"Ya ampun, anak orang lu suru naik angkot"
"Loe memang lemah soal taktik. Kalau naik taksi terlalu mahal. Naik angkot gak perlu ngerogoh kocek banyak tapi dapet kemesraannya"
"Mesra katamu??"
"Kamu memang engga bisa ngerti-ngerti ya. Dia angkotkan rame tuh. Pasti kita duduknya berdempetan. Kalau beruntung bisa pangkuan dech. Sekalian pamer kemesraan gitu"
"Iya. Gua akuin lu sebagai cowok teeeeerrromantis yang pernah gua kenal" nampaknya aku harus banyak belajar banyak dari senpai {Bahasa Jepang artinya master} yang satu ini
"Jadi gimana?"
"Bolehlah. Asal nanti traktir di kantin. Oke?"
"Apa boleh buat. Traktir bakso doang loo"
"Tambah es teh panas ama permen. Setuju?"
"Emang ada es teh panas??"
"Jiaa, salah dikit aja ga usah dipermasalahin. Kalo setuju sekarang aku menuju ke TKP"
"Deal"
Aku langsung menuju rumah David yang notabene tak jauh dari kandangku *emang gua ayam kali*. Dari kejauhan terlihat David melambaikan tangannya. Singkat cerita mengantarnya sampai kerumah pacarnya tapi aku dipaksa tidak boleh kelihatan kalau mengantarnya. Sangat merepotkan. Aku tidak langsung ke sekolah tapi mampir dulu ke konter pulsa terdekat. Saat aku mau cabut, kulihat angkot yang rutenya ke arah sekolah. Pasti mereka sudah ada didalam. Akupun mengikuti angkot itu. Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang melompat keluar dan nampak membawa ponsel berwarna pink. Dari dalam terdengar teriakan "Malingg" "Pencuri" "Jambret" "Kampret". Lantas saja kukejar penjahat tersebut. Dengan secepat kilat aku berhasil menangkapnya dan dia sudah tak mampu melawan. Kemudian beberapa kerumunan orang datang menghampiriku. Dan diantaranya ada dua orang yang aku kenal.
"Kamu hebat, Sur"
"Biasa aja. By the way ini pasti kepunyaanmu bukan?"
"Makasih banyak"
"Sama-sama. Kalian mau lanjut naik angkot apa mau bareng"
"Ngga perlu. Sekolahan juga udah hampir deket kan"
"Kalau gitu aku duluan ya. Byee.."
Aku kembali mengendarai motorku dan bergegas menuju sekolahan. Sesampainya disana, aku tak lekas ke ruang kelas. Kutunggu mereka berdua di gerbang sekolah. Tak lama Lena mendatangiku.
"Pagi Surya"
"Eh pagi juga"
"Lagi nungguin siapa sih, dari tadi aku perhatiin ga beranjak dari tempat ini."
"Ee, anu.. aku.. itu.. mau..."
"Ngomong yang jelas napa. Kaya dikejar sepur mabur"
"Lagi nunggu David ama pacarnya"
"Oh, jadi karena itu. Kira-kira aku boleh nanya sesuatu?"
"Se-sesuatu, sesuatu apa?"
"Kamu udah punya cewe belum?"
"Cewe? Pacar githu? Hahaha, mana ada yang mau sama aku"
"Mmm, gebetan mungkin?"
"Hah, kamu becanda kali. Jelas ga ada"
"Sebentar aku pergi dulu dipanggil Cindy tu"
Lena meninggalkanku sendiri. Aku masih menunggu dan saat yang dinanti tiba. Angkot telah sampai dengan selamat. Beberapa orang sudah keluar kebanyakan juga murid sekolah sini. Dan belakangan keluarlah David disusul Fanny dan... sesosok gadis berambut sebahu warna coklat mengenakan seragam yang sama dengan Fanny. Apa tandanya dia juga siswi disini? Tetapi aku tak pernah melihatnya sebelumnya. Apa aku terjangkit jatuh cinta pada pandangan pertama. Apakah Tuhan sudah mengambulkan doaku
"Woy loe udah mulai tuli apa ya? Dikirain kita angin berhembus kali."
"Hah, hah, apa tadi"
"Tau ah. Ayo kita masuk kelas aja sayang. Tinggalin aja si tukang bengong itu"
Dilain tempat,,,
"Ada apa Cin? Ada yang mau kamu bicarain"
Enggak kok cuma tadi kalian ngapain disana?"
Sekedar ngobrol pagi, memang salah"
"Memang gak salah. Tapi keliatannya kamu suka sama Surya"
"Eh, jangan mengada-ngada"
"Bukan mengada-ngada tapi ini fakta"
"Terserah aku mau masuk kelas dulu" 'omongan Cindy mungkin benar. setiap aku didekatnya aku merasa nyaman. senyumannya juga membuatku tenang. apa benar aku suka sama dia?'
SKIP Bel istirahat berbunyi,,,
Sebelumnya aku sempat bertekad mencari orang tadi. Tapi aku urungkan niatku. Akupun menuju taman belakang sekolah dimana ada dua temanku yang lagi dimabuk asmara. Aku tidak habis pikir. Mereka berdua berpegangan tangan erat. Padahal disekolah ada larangan berpacaran di areal lingkungan sekolah, jika tetap dilakukan akan dikenai poin. Tapi apa boleh dikata, aturan itu tak berlaku bagi mereka. Herannya lagi guru yang tahu hanya acuh tak acuh atau sesekali menegur saja. Pasangan ini layaknya kaki dan sandal, tanpa kaki sandal tak berguna dan tanpa sandal kaki tak ada apa-apanya. Keduanya tak bisa dipisahkan, sangat serasi membuatku semakin iri.
Setahun kemudian, kami naik ke kelas XI. Segala yang kami lalui di kelas X lebih tertuju kepada pelajaran sekolah dari pada kumpul bersama teman seperti dulu. Kami terlalu sibuk dengan urusan pribadi masing-masing. Hubungan persahabatanku dengan Davidpun kian merenggang dengan kehadiran Fanny didekatnya. Apa boleh buat, aku bisa berbuat apa, dia sudah terlalu sibuk dengan pacarnya. Namun yang membuatku terkejut dan tak habis pikir bahwa David tidak naik kelas. Hal ini membuatku bingung, apa karena dia selalu memikirkan gadisnya. Kemana-mana bersama Fanny, apa itu yang membuatnya sampai tak serius belajar hingga dirinya tak naik kelas. Aku masih banyak bertanya-tanya soal itu.
Hari ini pertama masuk sekolah setelah libur panjang. Rasanya senang bisa kembali bersekolah dan bertemu teman-teman lagi. Itulah perasaan seorang murid, ketika masuk minta libur, ketika libur pengen cepet masuk. Yah begitulah anak muda dari zaman ke zaman. Dari kabar burung yang kudengat, David kembali mengulang dikelas X namun ia memilih berpindah jenjang ke SMA. Mungkin kejuruan memang bukan keahliannya, walau itu tentang bisnis sekalipun. Saat aku ingin ke kelas, aku berpapasan dengan David.
“Hey bro, what’s up. Gimana kabar loe sekarang?”
“Biasa aja. O iya Sur nanti kita ketemuan di taman ya. Ada yang mau aku omongin.” aku menatap wajahnya yang nampak lesu dan tak bertenaga
“Oke. Nanti aku kesana.”
Aku meneruskan langkahku menuju kelas. Sesampainya didepan kelas aku meneliti satu per satu nama teman yang akan sekelas denganku. Dan disitu ada nama Lena dan Fanny. Aku juga menyadari bahwa dikelasku lebih banyak murid laki-laki daripada perempuan.
“Hai Surya duduk sama aku aja.” panggil seorang temanku yang dulu juga sekelas denganku
“Ya iya aku kesana.” aku menghampirinya dan duduk “Gimana libur kemarin. Pergi kemana aja?” Dia diam tanpa kata, dan ternyata dia bengong sambil melihat Lena yang kebetulan duduk didepannya. “Lu naksir ya” bisikku pelan. “Entar aku jadiin deh kamu sama dia.
Bel berbunyi menandai berakhirnya hari pertama. Menurutku kelasku sekarang lebih seru dan menyenangkan. Benar juga. Aku ada janji dengan David untuk ketemu di taman.
“Hei Vid. Kamu tahu gak aku sekarang sekelas sama Lena dan Fanny”
“Itu yang aku mau obrolin. Aku udah putus sama dia, karena orang tuaku mengharuskan aku fokus sekolah bukannya mikir pacar. Jadi dengan berat hati aku putusin dia.” jelasnya dengan wajah murungnya
“I’m sorry to hear that. Kalau kamu udah mutusin seperti itu, kamu harus buktiin kamu bisa berubah lebih rajin lagi belajar. Aku yakin suatu saat nanti ketika kamu sudah berhasil yang namanya perempuan seperti Fanny pasti datang dengan sendirinya. Yang terpenting dari semua itu adalah kamu harus bisa meyakinkan dirimu kalau kamu bisa berubah menjadi lebih baik. Jadiin semua ini pelajaran berharga buat langkahmu kedepan. Masa depan ada ditanganmu bukan Fanny atau siapa pun. Aku berharap kamu bisa menghadapi ini semua, jangan menyerah, perjalananmu baru dimulai. Semua tergantung padamu” kataku panjang lebar bagai kesambet Mario Teguh
Detik berganti detik, menit berlalu menit, jam terlewat jam, hari terlampau hari, bulan berjalan bulan, David menjadi seorang yang lebih dewasa. Dia sudah tidak memikirkan wanita lagi dan memusatkan dirinya untuk belajar sebagai kewajibannya menjadi siswa. Hebatnya dia mendapat peringkat yang baik dikelas. I’m proud of him, because he want to change his life into a good life. Semua itu karena kata-kataku waktu itu? Aku juga tidak tahu, kata-kata itu terlontar begitu saja sebagai penyemangat hidupnya, kalaupun berhasil itu murni kerja keras David. Kurasa David sudah tidak bermasalah lagi. Giliran teman sebangkuku yang punya masalah percintaan. So what i can do?
“Sur, aku mau ngomong sama kamu bentar”
“Kenapa sih pake acara narik-narik segala”
“Gini aku mau ngomong..”
“Ngomong ngomong aja. Ada apa sih?”
“Aku kelihatannya naksir Lena dech”
“Tuh kan apa gua bilang. Lu naksir dia kan.”
“Iya-ya jangan keras-keras entar ada yang denger”
“Ok. Terus apa yang mau lu lakuin”
“Nah itu yang aku lagi pikirin. Tapi belum ketemu caranya.”
“Gua janji gua bakal bantu lu sebisa gua”
“Makasih ya. Kau memang teman terbiak.. maksudku terbalik.. eh terbaik”
“Udah deh gak usah mulai lagi”
Aku bawa kalian menaiki mesin waktu menjelajahi masa depan. Ceritanya temen sebangkuku sudah deket banget sama Lena dan rencana dia mau nembak pas kerja kelompok.
“Hei udah dateng”
“Iya”
“Wah ada Surya juga. Kamu ikutan?”
“Dipaksa gitu sih. Tadinya aku gak mau tapi dianya maksa terus ya udah aku ikut.”
“Ooo, ya udah duduk dulu”
“Mmm, Len ada yang mau aku omongin serius”
“Ngomong aja”
“A-aku sayang sama kamu. Mau jadi pacarku?”
“Eee.. Thanks loe udah sayang sama gue. But sorry, aku sudah terlanjur jatuh cinta pada seseorang dan itu bukan kamu, tapi..”
“Oke aku ngerti kok. Makasih juga udah ngehargain perasaanku dan..”
“.. aku sayangnya sama Surya”
“Ooo.. what? Maksudku kamu sayang sama aku? Mm- nn- gg-“
“Aku gak nyangka jadi selama ini”
“Enggak aku selama ini cuma suka sama Fanny.”
“Aku kenapa aku? Aku bahkan jarang ngobrol sama kamu, masa kamu suka sama aku.”
“Tapi Sur, dulu kita kan yang buat Fanny dan David jadian, terus kamu malah suka sama dia.”
“Ini juga diluar kemauanku. Rasa ini bertumbuh begitu saja.”
“Sorry Surya. Sebenernya aku belum bisa ngelupain David yang dulu selalu sama aku. Lagipula aku juga gak punya rasa apapun sama kamu. I’m very sorry.”
“Yeah, i know. But can we be good friend?”
“Of course yes”
Masing-masing dari kami membuka rahasia kami di hari itu. Mulai dari perasaan temanku pada Lena, Lena padaku, aku pada Fanny, dan Fanny pada David. Sejak hari itu, sejak saat itu juga hubungan pertemanan kami sedikit memudar.
“Kenapa sih lu gak mau gua ajak omong bahkan sampe ngehindar gitu, ada yang salah ya?”
“Masalahnya bukan di kamu kok. Ini masalahku. Aku gak bisa jadi yang terbaik  buat Lena. Sampe dia memilih kamu ketimbang aku.”
“Tenang. Gua udah janji sama lu buat jadiin lu sama Lena kan. Gua bakal tepatin.”
“Seriously?”
“Sure”
“Yang aku masih heranin adalah kamu suka sama Fanny. That’s so surprising me.”
“Soal itu, sebenernya gua gak serius. Gua cuma nyari alesan biar bisa nolak Lena. Secara gua seumur-umur belum pernah nolak cewek, apalagi tiba-tiba kaya gitu. Gua gak suka sama dia kok. (tunggu-tunggu berarti perasaanku sama Fanny gak beneran? hanya aku dan Tuhan yang tahu, lihat saja nanti)
“Oh gitu.”
STEP 1: MY FRIEND & HIS LOVE, LENA
Okelah kita anggap ikatan pertemanan sudah mulai berlanjut. Masalah baru datang lagi ketika David menemuiku.
“Kamu ada masalah apalagi sih. Kok masalah gak ada habisnya.”
“Maklum Tuhan sayang sama aku makanya nguji aku terus”
“Oke deh terserahmu. Sekarang apa masalahmu?”
“Aku udah hampir move on 100% dari Fanny dan berharap bisa fokus dengan pelajaranku sekarang. Tapi dunia tidak adil, rasa cinta tumbuh lagi kepada seseorang.”
“Seseorang? Siapa dia?”
“Dia temen sekelasku, juga temen sebangkuku. Dia baik banget, selalu bantuin aku belajar, jam istirahat ketika temenku yang lain asik sendiri dia mau nemenin aku. Dia selalu ada buat aku. Dan dia punya nama yang sama dengan mantan pacarku :(“
“Namanya Fanny. Fanny yang lain lagi. Ini jadi masalah berat.”
“Karena itulah. Aku mau pacaran lagi dan aku janji semakin giat belajar. Karena aku didampingi seorang yang selalu bantu dan nyemangatin aku sampai bisa dapat nilai yang bagus.”
“Begini deh. Gua bakal bantuin lu semampu gua. Tapi lu tetep harus nepatin janji untuk semakin rajin belajar.”
“Bentar ya gua mau tanya. Jadi Rista itu siapa ha.. ha..”
“Eh dia itu eh cuma selingan aja. Aku belum terbiasa ngejomblo. Tapi aku udah putusin dia dan sungguh-sungguh belajar.” (tidak salah dia dijuluki playboy sejati, kukira dia akan fokus 100% nyatanya setelah Fanny ada dua cewek lagi. Kzl.)
“Okelah”
STEP 2: MY BESTFRIEND & HIS LOVE, FANNY
Sekarang tinggal bagaimana caranya aku bisa mempersatukan temanku dan sahabatku dengan gadis pujaannya masing-masing sedangkan aku sendiri punya pengalaman dalam hal cinta. Menjodohkan David dan Fanny kala itu menurutku hanya suatu kebetulan dan sulit untuk terulang lagi. Lalu bagaimana aku bisa, ah sudahlah biar saja mengalir seperti air di hilir bergulir tanpa akhir.
Aku tenangin pikiranku dengan pergi ke sebuah mall. Hanya untuk sekedar ngademin otak yang lagi terbakar. Aku masuk ke tempat makanan. Aku mengambil snack dan cemilan yang dapat membantuku menjernihkan pikiran. ‘Maybe some popcorns’. Lalu aku mengambil minuman dingin dari lemari pendingin. Tak lupa aku melihat disebelah terdapat mesin pendingin tempat meletakkan es krim. Asal kalian tahu *itupun kalau kalian mau tahu* aku suka banget sama es krim apalagi merek yang satu ini, selain rasanya yang enak juga dapat promosi dvd menarik. Kembali ke laptop Lenovo-ku *eits nyebut merek*, aku membayar semua barang yang kubeli di kasir. Aku keluar dan mencoba memasukan uangku kedalam dompet, tapi selembar uang jatuh dari tanganku. Aku ingin mengambilnya dan kusadari ada tangan lain yang sama-sama memegang uangku. Tenang, dia bukan maling. Tenyata dia Fanny.
“Sorry tadinya aku mau ngambilin uang kamu”
“O iya makasih. Ehm kamu lagi apa disini?”
“Aku lagi bete nih. Daripada bengong dirumah mending jalan-jalan. Kamu sendiri ngapain? Bukannya jarak dari rumah kamu kesini jauh ya? Biasanya kamu paling males kalau jalan jauh.”
“Kok kamu tahu sih. Atau jangan-jangan kamu itu mentalist, bisa baca pikiran aku. Kaya Deddy Corbuzier gitu.”
“Ih apaan sih ngeledek. Lagian kan sekarang Deddy Corbuzier jadi host talkshow.”
“Iya juga ya. Kalau punya pacar bisa nebak-nebak gitu, pasti ga mungkin selingkuh.”
“Ya iyalah. Aku juga bisa lho nebak kejadian paling memalukan dalam hidupmu.”
“Ah masak! Waduh gawat, jangan kasih tahu siapa-siapa dong, kan aku malu jadinya.”
“Ih apaan sih. Aku gak serius kali. Aku cuma bercanda kok.”
“Huuh.. syukur deh kirain kamu bisa nebak beneran. Bisa nebak beneran.”
“Eh emang apa sih kejadian paling memalukan. Kok kamu sampe takut gitu.”
“Itu....”
FLASHBACK MODE: ON
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, memalukan berarti menjadikan malu. Malu sendiri berarti tidak enak hati. Itu artinya kejadian paling memalukan dalam hidupku adalah kejadian yang paling menjadikan aku malu. Mungkin kejadian waktu TK yang kualami adalah kejadian paling memalukan. Ceritanya waktu itu kelas kami kedatangan seorang bruder (laki-laki yang memilih tidak menikah). Aku yang masih lugu dan polos bermain asik dengan teman-teman diberhentikan dan dipanggil oleh sang bruder. Lucunya ternyata beliau ingin menutup resletingku (bahasa Indonesianya resleting apa ya?) yang ternyata terbuka. Aku malu sekali waktu itu, teman sekelasku semua menertawakanku. Belum habis sampai disitu. Resleting yang coba ditarik keatas tak sengaja menjepit ‘anu’ku. Aku kesakitan dan menangis diiringi teman-teman yang semakin kencang tertawa. Memalukannya lagi cerita ini diceritakan oleh mamaku sendiri ketika kami bertemu kembali dengan beliau, karena aku tidak ingat. Kamipun tertawa terbahak-bahak karena kejadian itu. Yup, mungkin itu kejadian paling memalukan.
Eits tunggu dulu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia lagi, memalukan juga berarti malu tentang sesuatu. Malu tentang sesuatu.. Oh iya aku ingat! Kejadian yang membuatku malu tentang Fanny. Waktu itu hari dimana pelajaran berjalan seperti biasa sampai akhirnya pelajaran bahasa Mandarin menyerang. Kebetulan aku duduk didepan dekat guru. Dan dibelakangku tepat ada Fanny yang cantik seperti biasa. Kejadian yang membuatku malu banget adalah ketika dia memegang rambut aku dan memain-mainkannya. Oh ya Tuhan, begitu besar berkat dan rahmat yang Engkau limpahkan pada hamba-Mu ini saat itu. Fanny memainkan rambutku cukup lama (bagiku), sekitar 3-5 menit. Dan tiap detiknya jantungku berdegup kencang tak karuan, hatiku berbunga-bunga, dan jika ada yang melihat wajahku mungkin mereka tahu kalau pipiku blushing. Aku tidak tahu motif dia apa, aku hanya bisa pasrah, bertanya-tanya, deg-deg sekaligus gembira.
FLASHBACK MODE: OFF
“Itu apa?”
“Eh itu.. kamu ga boleh tahu.”
“Kenapa sih. Kok aku ga boleh tahu.”
“Bukan gitu. Ini rahasia pribadi aku. Tapi aku janji cerita sama kamu kalau waktunya tepat.”
“Oke lah kalau begitu”
“By the way, kamu mau kemana sekarang?”
“Aku sih rencananya mau makan. Kamu?”
“Boleh juga tuh. Aku juga lagi laper. Makannya sama aku aja gimana?”
“Ya udah ayuk.”
...
“Kamu pesen apa?”
“Ga tahu. Aku kan belum pernah kesini. Kamu aja deh yang pilihin buat aku.”
“Oh gitu. Mmm.. pesen lele penyet aja gimana. Kata mama aku lele penyet disini enak banget. Tapi aku sendiri belum pernah cobain.”
“Itu aja. Kebetulan aku suka banget sama olahan lele.”
“Bagus dong. Ya udah lele penyetnya dua sama minumnya es teh manis dua”
“Fanny, tadi katanya kamu lagi bete ya. Bete kenapa?”
“Ga bete gimana? Sejak aku putus sama David rasa hidupku hampa”
“Ooo”
“Kok ‘Ooo’ doang sih. Kamu bantuin aku dong.”
“Gimana mau bantuin, aku juga harus bantuin David sama gebetan baru-“
“Apa? David udah punya gebetan baru?”
“Aduh keceplosan”
“Ga papa kok. Aku harus move on dari dia dan nemuin cowok yang lebih dari dia.”
“Bagus. Mak-maksudku sebagusnya begitu. Aku yakin kamu bisa dapet yang lebih dari dia” ‘dan semoga itu aku’
“Thanks ya saran kamu”
...
“Bener kata mama kamu. Lele penyet disini enak banget. Ini lele penyet terenak ketiga buatku.”
“Kok ketiga. Yang pertama dan kedua siapa?”
“Buatan mamaku dan istriku nanti”
“Ah kirain siapa.”
“Kakak-kakak ini pasangan ya? Kebetulan sekali kami dari *tiiit* Ice Cream memberikan diskon besar-besaran untuk pasangan khusus hari ini”
“Es krim? Es krim ku meleleh!”
“Kalau gitu kita mampir disini”
“Tapi kan kita bukan-“
“Ga usah dipikirin. Dia aja ga curiga”
“Terserah kamu aja”
“Ya udah ayo masuk” “Kamu mau es krim rasa apa sayang”
“Say-“
“Iya sayang. Kamu mau yang rasa apa?”
“Oh. Aku samain aja sama aku. Biasanya kan juga begitu.”
“Kalau gitu kita pesen dua es krim strawberry”
“Aku punya firasat ga enak deh”
“Udah nikmatin aja. Seolah-olah kita lagi kencan.”
“Tapi perasaanku bener-bener ga en-“
“Eh Surya, Fanny, kok kalian disini.. Oo kalian udah jadian ya. Sama dong aku sama Lena juga udah jadian.”
“Wait. Kita engg-“
“Wah sama dong. Aku sama Surya juga baru jadian”
“Congrats ya kalian berdua”
“Kalian berdua juga”
“Tapikan-“
“Kenapa sayang”
“Engga. Bukannya kamu Lena ga nerima dia waktu itu”
“Setelah aku deket sama dia, aku baru tahu dia baik banget sama aku. Perhatian, romantis, pokoknya sweet banget orangnya. Ehm. Fanny kamu dulu kan juga nolak Surya kok sekarang bisa jadian”
“Eh itu.. Mmm.. aku juga ga tahu. Perasaan ini timbul begitu saja. Ya gitulah”
“.. Selamat sore semuanya. Para hadirin dan hadirat yang saya hormati lagi saya cintai. Pada kesempatan kali, kami berkenan mengundang pasangan-pasangan yang ada disini untuk berdansa bersama. Dan kami akan memberikan empat tiket nonton ‘Negeri Van Oranye’ untuk satu orang pemenang guna double date dengan teman mereka yang juga berpasangan. ..”
“Len, kita ikut yuk”
“Ayo siapa takut. Gimana Fan, Sur, kalian ikut juga ya”
“Tapi aku”
“Udahlah sayang kita ikut aja”
“Ok”
“Ayo!”
“Aku ini ga bisa nari apalagi dansa. Kamu tahu kan?”
“Ga papa Sur. Aku ajarin kok.”
Kami berempat pun akhirnya berdansa bersama dengan pasangan-pasangan lainnya. Dan disaat pengumuman pemenang ternyata temanku dan Lenalah yang menang. Mereka mendapat empat tiket. Dua untuk mereka, dua untuk kami. Dan aku dan Fanny masih harus berpura-pura sebagai sepasang kekasih. Akhirnya kami berempat pergi ke bioskop yang terletak satu lantai diatas.
Film yang kami tonton adalah tentang persahabatan yang berubah menjadi perasaan suka kepada satu teman perempuan mereka yang sama-sama menimba ilmu di Belanda, Lintang (yang kebetulan aku ngefans sama aktris pemerannya). Setelah selesai menonton kami berpisah. Aku mengantar Fanny pulang.
“Makasih ya udah nganterin sampe rumah. Dan maaf tadi aku buat kamu jadi pacar pura-pura aku. Tapi hari ini aku seneng banget bisa kencan, eh maksudku jalan-jalan sama kamu. Aku jadi ga bete lagi dan bikin aku bisa move on sekarang”
“Ya sama-sama. Aku seneng bisa nemenin kamu seharian ini. Berhubung ini udah hampir malam aku mau langsung pulang.”
“Hati-hati dijalan”
“Salam buat papa, mama, sama adek kamu”
“Iya nanti aku sampein”
Keesokan harinya hari Minggu yang cerah. Aku bangun agak kesiangan. Bukan agak juga, sudah jam 9, tapi itulah kebiasaanku ketika libur bangun siang. Saat aku bangun dan ingin makan, mama memberiku undangan. Ternyata hari ini hari ulang tahun Fanny dan aku diundang ke pestanya. Aku panik. Aku tidak ingat, sehingga aku tidak menyiapkan kado apapun untuknya. Aku langsung menelpon Lena mencoba bertanya kado apa yang paling diinginkan oleh Fanny dan dia mengatakan kalau Fanny ingin sekali tas merah yang dijual tepat didepan tempat es krim kemarin. Aku langsung menghancurkan celenganku dan menghitung seluruh uangnya dan ternyata lebih dari cukup untuk membeli tas itu sesuai harga yang diberitahukan. Aku membeli barang tersebut dan meminta ibuku membungkuskannya dengan kertas kado. Sore itu, aku sudah bersiap pergi. Ketika ditengah perjalanan sepeda motorku mogok. Dengan tanpa berpikir panjang aku titipkan di toko bunga diseberang supaya aku bisa naik taksi secepatnya. Sesampainya disana aku sudah terlambat.
“Maaf, maaf aku terlambat” kataku sambil terenggah-enggah
“Oh jadi ini yang kamu tunggu-tunggu Fanny” tanya Mama Fanny
“Eh pacarnya sendiri kok telat sih” tanya Lena menyindir
“Tadi motor aku tiba-tiba mogok ditengah jalan. Tunggu, pacar?” sesaat aku bertanya, sesaat lagi aku terdiam, dan sesaat kemudian aku ingat dan aku yakin Fanny juga ingat bahwa Lenna tahunya kalau kita berdua pacaran.
“Oh jadi dia pacar kamu Fanny?” tanya Papa Fanny
“Jadi begini Om, Tante, semua aku bukan pacarnya Fanny. Kemarina aku cuma jalan sama Fannya dan dikiranya kita berdua pacaran.” jelasku “Dan sekarang didepan Om, Tante, dan semua yang hadir disini aku mau bilang kalau aku sayang sama kamu. Aku tahu kamu pernah nolak aku. Tapi perasaan ini ga pernah berubah, malah bertambah setiap kali aku bersamamu. Maukah kamu jadi pacarku, pasangan yang tidak hanya pura-pura” ungkapku sambil berlutut dan memberi bunga padanya
“Memang dulu aku pernah nolak kamu. Tapi itu dulu waktu aku belum mengenal kamu seperti sekarang. Sekarang aku tahu siapa kamu, seperti apa kamu, dan kamu udah berhasil buat hati aku bergelora saat bersamamu. Jadi aku mau jadi pacarmu.” jawab Fanny tanda bahwa Fannya menerimaku sebagai pacarnya.
Aku berharap hubunganku dengannya bisa saling melengkapi dan saling memahami satu sama lain. Ini adalah akhir ceritaku yang merupakan awal cintaku, tapi cerita ini belum benar-benar berakhir....

Rabu, 05 Februari 2014

Cerpen Cinta Romantis - Best Date Ever by Aji


David, itu namaku. Sesosok manusia yang beranjak lebih dewasa. Selayaknya remaja lainnya, akupun tengah menghadapi masa pubertas. Aku sadar akan hal itu, karena memang banyak yang berubah dariku menuju lebih baik pastinya. Tanda-tanda aku lagi puber enggak cuma tambah tinggi tegap, tumbuh rambut di kaki maupun di tangan, kumis dan jakun yang mulai tampak, serta suara yang sudah memberat seperti papa aku. Namun ada yang aku belum pernah rasakan selama ini, jatuh cinta pada seorang cewe.
Fanny, yang membuat para malaikat bersedih saat bidadarinya turun ke dunia ini. Menurutku dia gadis yang cantik, manis, imut, gemesin, baik, ramah, perhatian, ah pokoknya idamanku banget. Aku sudah mengenalnya sejak kami kelas I SD. Saat itu aku sama dia masih biasa aja, maklumlah anak kecil belum tahu yang namanya cinta. Saat SMP lagi-lagi aku sekelas dengan dia. Tidak ketinggalan dengan kawan lama: Christa, Surya, Lena, dan Cindy. Meski baru kelas VII tapi aku laki-laki kedua dikelasku yang sudah punya pacar, namanya Cindy. Tapi hubunganku dengan dia enggak bertahan lama lalu akhirnya kita putus tanpa alasan yang jelas.
Kisah lainnya ada yang jadi musuhku atau lebih tepatnya memusuhiku, sebut saja Anto. Penyebab awalnya adalah kejadian saat kami bertanding basket. Anto memang jago main basket, sampai dia pernah menyabet gelar pemain terbaik sekota kita. Bahkan dia sempat menjalani seleksi timnas basket putra U-13. Lanjut ke masalah dimana tim kita sedang tertinggal jauh dari lawan. Performa Anto yang dianggap pelatih kurang memuaskan, akhirnya iapun ditarik keluar dan diganti oleh.. Aku?? Aku melihat ekspresi kemarahan tampak dari dirinya. Dia langsung berlari menuju arah pelatih.
"Apa maksudnya aku diganti, tim kita sudah tertinggal. Bagaimana jadinya kalau kaptennya dikeluarkan" bentak Anto penuh amarah menyelimutinya
"Keputusan sudah kuambil, David akan menggantikanmu" tutur pelatih memberi alasan
"Hah, aku diganti olehnya! Pikirkan nasib tim kalau pemain kelas teri macam dia dimasukan saat tim ada diambang kekalahan seperti sekarang ini"
Aku yang tak terimapun beranjak dari kursi duduk pemain di bench cadangan "Aaapa maksudmu. Kau memang hebat tapi jangan berani menghinaku ya!"
"Ini kenyataan. Fakta yang berbicara" omongannya makin membuatku terpancing emosi
"Ooo... jadi ngajak ribut lo ya..!!!"
"Cukup. Anto, kamu tidak bisa mengubah keputusan pelatih sedikitpun" Anto yang malas berdebat memilih berjalan menjauh meninggalkan riuhnya lapangan "Jangan pikirkan masalah tadi, fokuslah pada pertandingan." aku hanya mengangguk dan masuk ke lapangan. Sorak-sorai suporter terdengar jelas dari sini. Aku melihat sembari mencari-cari keberadaan Fanny diantara gerombolan manusia. Dan akupun menemukannya. Dia cantik sekali membuat jantungku berdetak kencang.
"Hey, jangan ngelamun dong" suara itu membuatku kaget dan tersadar dari lamunanku
"Yee.. siapa yang lagi ngelamun Sur"
"Udah ayo.."
Pertandingan akhirnya dimenangkan oleh timku, dan aku mencetak 10 angka tambahan. Dengan itu tim kami sukses menjuarai kompetisi dengan hasil yang sangat menggembirakan. Pada kala penerimaan medali berikut trofi aku tidak hadir. Aku hanya terduduk di kursi taman dekat sana. Hal yang tak terduga, yang membuatku bertanya pada diri sendiri 'mimpi apa aku semalam'. Fanny tertangkap indra penglihatanku sedang mengarah ke tempat dimana aku sekarang.
"Hei Vid, kamu kok tadi gak keliatan pas serah terima hadiah. Taunya malah ngelamun disini. Hayo ngelamun siapa tu... ah aku tau nih" katanya yang membuatku memotong ucapannya
"Apaan sih, siapa juga yang lagi ngelamun. Aku cuma lagi ada masalah."
"Cerita aja kalau ada masalah. Aku bisa jadi pendengar yang baik bagi curhatmu. Apa jangan-jangan soal kamu sama si Anto tadi ya?"
"Kamu memang kaya paranormal bisa nebak apa yang dipikirkan orang lain. Apa kamu belajar dari Deddy Corbuzier ya hahahaha" jawab sambil ketawa ngakak
"Itu muji apa ngeledek hah?" dengan tatapan membunuh
"Engga kok, just kidding" masih mesem-mesem nahan tawa "Oiya, kamu belum pulang?"
"Gini nih, keliatannya aku ga ada yang jemput. Papaku masih sibuk di kantornya, mamaku sedang ketempatan arisan jadinya repot" jelas Fanny
"Gimana kalau kamu aku anter aja. Tapi aku harus beli kebutuhan rumah dulu di minimarket"
"Ga papa asal ga ngerepotin aja"
Kemudian kami berdua menuju minimarket dekat rumahnya. Dia sudah kuajak ikut masuk tapi dia nolak. Akhirnya aku masuk kedalam sendirian. Seusai semua barang yang dibutuhkan telah terambil dan sudah siap menuju kasir, aku menengok ke samping dan terdapat pendingin yang berisi ice cream. Lalu aku terfikir untuk membelikan Fanny yang sedari tadi menungguku. Setelah semua barang telah dibayar akupun keluar.
"Gimana udah selesaikan?" tanya Fanny
"Udah kok. Tapi bentaran lagi ya pulangnya" bujukku membuat ia makin terheran-heran
"Napa emang mau pergi lagi?"
"Enggak, malah aku mau ngajak istirahat dulu sambil .." aku mengambil ice cream yang kubeli "makan es krim lumayan buat dingin-dingin ditengah matahari yang terik ini. Yang strawberry buat kamu, yang choco buat aku"
Aku dan dia akhirnya memilih beristirahat sambil menyantap ice cream kami. Aku yang iseng menggigit ice creamnya.
"Iiih, inikan es krimku kok kamu makan sih" sebelah alis terangkat keatas
"Heheehe aku cuma pingin ngerasain aja"
"Tuhkan gara-gara makan punya orang mukanya cemot semua" Fanny mengambil sesuatu dari kantung celananya, sebuah sapu tangan. DEG dia mengusap sekitar bibirku yang terkena ice cream. Tiba-tiba saja jantung ini tidak bisa dikontrol lagi, berdetak kencang tidak beraturan. Rasanya dag-dig-dug seerr..
Hiyuuh.. hari yang menyenangkan. Karena takut kesorean, Fanny mengajakku bergegas pulang. Ditengah perjalanan, hatiku masih saja berdegup gak karuan. Ditambah dia menggengam erat badanku dengan tangannya yang lembut ooww...
"Vid, David, Viiid!" Ah, lagi-lagi aku ngelantur gak jelas "Dipanggilin bukannya nyahut kek nengok kek ini malah bengong di siang bolong"
"Aa,, ee.. iya iya maaf, kamu tadi mau ngomong ya, ngomong apa?"
"Emm ini, dari sini terus ada pertigaan belok kanan, habis itu tinggal lurus rumah nomor 110" jelas Fanny padaku
"Ooooh.. oke dech"
Kamipun tiba didepan gerbang rumahnya. Terdengar bising akan bunyi para ibu. Ya, arisannya sudah mulai
"Tuh keliatannya udah mulai, ikutan gih" ledekku
"Enak aja emang gua mak-mak apa" katanya tak terima
"Lah itu sadar hahaha" tawaku makin menjadi. "Adu,, duh.. sa-kit.. sa-ki-t" karna saking jengkelnya, Fanny menarik telingaku dua-duanya
"Rasain biar tau rasa" kemudian dia melepaskan tarikannya "Kan sekarang udah kaya kuping gajah, apa perlu hidungmu kubuat belalai hehe.."
"Ampun.. ampun aku minta maaf deh"
"Kali ini aku beri pengampunan tapi lain kali awas!" "Ya udah aku masuk ya, hati-hati di jalan daaaaa"
Sesampainya dirumah..
"Baru balik? eh kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya mama melihatku datang dengan senyum lebar
"Ngga ada apa apa. Aku masuk kamar dulu ya"
Pada malam harinya, entah mengapa aku tak bisa tidur. Bayangan Fanny selalu menghampiri diriku. Tiap senyumannya menghiasi indahnya hari ini. What a great day. Ditengah khayalanku tiba-tiba saja handphone yang sejak tadi tersimpan dijaketku bergetar. Langsung kuambil dan kubaca isi pesan singkat yang dikirim seseorang dengan nomor yang tak kukenal
From: +628xxxxxxxxxx
"...ini bener nomernya David bukan?..." 'siapa ya?' batinku bersamaan saat aku balas dengan menanyai nama pengirim.
DREET DREET 'pasti balasan'
From: +628xxxxxxxxxx
"...tebak dong kira-kira aku ini siapa coba?..." aku kembali membatin 'ni orang jangan-jangan iseng'
To: +628xxxxxxxxxx
"...sorry, gw gk k'nal..."
Belum berapa lama, kedengaran suara nada dering tanda ada panggilan masuk. Mungkin orang jahil tadi. Karena penasaran akupun menekan tombol 'accept'
"Halo siapa ini ya?" " Ngenalin suara aku nggak?" "Ini Fanny bukan?" "Bisa jadi" "Bisa jadi?" "Cuma bergurau. Jawaban Anda benar" "Wih dapet hadiah dong" "Besok ya, mau di kuping ato idung" "Eits, tidak lagi" "Hehehe" "Nemu dimana nomer hape aku" "Aku kan detektif sekaligus mata-mata yang handal. Masalah cuma nomer handphone mah kecil buat aku. Aku aja tau kamu lagi ngapain?" "Hah!? Seriusan loe?" "Ya iyalah, kamu pasti lagi telpon-telponan. Kan?" "Gitu aja anak TK juga tau Fan.. By the way, nelfon gua cuma buat basa-basi doang" "Oiya sampe kelupaan. Gini, aku minta kamu hadir di acara dance competition. Group aku bakal berpartisipasi disana." "Hmm, kapan aku harus datang?" "Besok. Sebenernya dimulainya pukul 9 tapi berhubung ada GR dulu jadi sekitaran jam 7 an lah" "Perlu aku jemput" "Aku bareng keluargaku" "Siiap boss"
Keesokan harinya,,,,
"Kak, bangun kak udah siang loh"
"Apaan sih aku masih ngantuk banget. Nanti aja jam 6 an"
"Kakak mau tidur ampe sore. Sekarang jam 10 lewat"
"AAPAAA...!!!!"
Bagaimana aku bisa telat bangun. Padahal seumur hidup aku pasti bangun pagi, mentok ya jam 6. Ini malah kebablasan, apa sebab aku begadang kemarin ya. Lupakan!! Aku harus bergegas siapa tahu dia belum perform atau acaranya molor. Aku menyetir dengan kecepatan tinggi pokoknya harus tancap gas. Akhirnya aku telah sampai di gedung yang dikatakannya. Dan aku melihat ada Lena, teman Fanny yang juga ikut lomba. Aku menghampirinya dan mencoba bertanya dimana Fanny.
"Hai Len, aku mau nanya. Kamu liat Fanny gak?"
"Setelah dia selesai tampil dia langsung cabut. Dia bilang sedang tidak enak badan." cerita Lena padaku "Memangnya kenapa Vid, tumben nyari Fanny?"
"Bukanlah hal yang penting. Sudah ya. Byeee" aku meninggalkan gedung itu.
Sampai diluar aku merogoh saku dan mengeledahnya. Haduuh, pas gawat darurat tu HP malah ngilang. Terpaksa aku harus pulang dulu. Setibanya di rumahku,..
'Ah, ketemu'
To: +628xxxxxxxxxx
"...Fan, gue mau minta maaf. Aku tadi kesiangan bangunnya jadi bisa dateng. Pas aku kesana kata Lena kamu cabut duluan. Apa bener kamu lagi sakit?..." kemudian aku klik 'send'. Aku menungu, terus menunggu, entah berapa waktu telah aku buang hanya untuk menunggu sampai akhirnya..
1 message received
From: +628xxxxxxxxxx
"...perkara itu engga perlu dibahas..." Ya ampun, aku digantungin. Antara maafin atau cuekin, antara kecewa atau memang mau istirahat. Akibatnya kami berdua tidak berkomunikasi untuk beberapa lama. Saking galaunya, aku jadi kepikiran untuk meluapkan semuanya di Facebook. Saat aku membaca status teman dunia mayaku. Aku tersadar hari ini perayaan Tahun Baru Imlek. Raut wajah yang lesu berubah jadi sumringah. Aku membiarkan laptopku menyala dan berjalan menghampiri ruang makan. Aroma sedap masakan China terasa dari kejauhan. Sehabis sarapan aku kembali ke kamar, memperhatikan laptop yang lupa ku matikan. Ketika aku menatap layar selebar 14" inchi tersebut, ternyata ada yang mengirim permintaan pertemanan. Saat kubuka alhasil yang nampak hanya 'Fanny'. Oow jadi ini akun Facebook-nya. Aku membuka halaman depannya, melihat foto dirinya yang dipasang sebagai foto profil dan seperti hidangan imlek sebagai foto sampulnya dan selanjutnya.. Saat ini Fanny ONLINE. Buruan aku buka obrolan.
[ Gong Xi Fa Chai ]
 [ Hmm ]
[ Cuma hmm doang nih ]
 [ Ya iya sama-sama ]
Lalu..
'Fanny aktif baru saja' itu tulisan menandakan dia sudah log out. Sial! Daripada diam mending aku liat album foto Fanny. Semua isinya koleksi potret dia mulai dari selfie, bareng temen, saudara serta orangtuanya. Setelah asyik menjelajahi foto yang ia upload, aku berkeinginan menelusuri aktivitasnya baru-baru ini.
Fanny . 2 jam yang lalu
Happy Chinese New Year
Like . Comment . Share
Fanny . Kemarin pukul 21:49
Saatnya bobo cantik
Like . Comment . Share
Fanny . Kemarin pukul 17:23
14 hari menjelang Valentine, aku berharap bisa mengumpulkan banyak coklat
Like . Comment . Share
Tombol jempol terus aku tekan untuk setiap statusnya.
SKIP TIME to February 13th
Aku benar-benar engga pernah ngobrol lagi dengannya. Dia seperti menghindar dariku, tidak mengharapkan kehadiranku. Esok merupakan hari yang tepat untukku meminta penjelasan darinya atas perlakuannya padaku.
Ketika matahari mulai menampakan sinarnya,,,
Di kelas sudah mulai ramai dengan murid yang lalu lalang di lorong sekolah. Aku menapakan kaki selangkah demi selangkah sambil memberikan cengiran dan sapaan hangat kepada semua teman yang kujumpai. Belum sampai masuk kelas aku sudah ditabrak seseorang yang berniat keluar kelas. Kami sama-sama mengelus jidat yang hampir benjol dan mengerang kesakitan.
"Maaf" lirih orang itu
Aku sedikit mendongakkan kepala "Lena" ternyata dia sudah menatapku terlebih dahulu. Aku berdiri dan membantunya berdiri.
"Ma-makasih" ucapnya dengan.. tergagap, tidak biasanya Lena bicara tersendat-sendat "Vid a-aku punya se-sesuatu yang spesial buat ka.. ka.. mu"
"Yang tenang kali ngomongnya. Tarik nafas.. buang.. ulang... Santai kaya di lantai vila deket pantai jangan kaya orang dibantai pake rantai" mendengar leluconku yang jayus itu diapun tersenyum
"Nah. Ini coklat aku buat sendiri diajarin sama mama aku. Aku khusus peruntukkan cuma buat kamu"
"Cuma buat aku? Iya juga masa coklat satu dikasi kebanyak orang. Yah maklumlah providernya lola dengan kecepatan transfer data yang lemot hehe" sekali lagi aku melucu dengan banyolan yang sangat amat standard
"David, gua serius. Ini sebagai bukti cintaku padamu. I love you" tatapannya sungguh serius. Tiba-tiba aku tersenggol oleh orang yang tak kukenal. Aku yang tak sempat mengembalikan keseimbangan tubuhku akhirnya menjatuhkan tak hanya aku tetapi Lena juga. Dan bibir kami bersentuhan. Aku ingin segera bangkit namun ada yang menahanku. Lena? Sekuat dia menahanku, dia tetap kalah. Banyak yang melihat kejadian tadi , ada yang tepuk tangan bahkan bersiul. Tapi aku tak peduli. Aku menjauh dari kerumunan siswa dan menjumpai Christa dan Cindy. Ups,.. jangan langsung menyimpulkan, mereka berdua itu saudara meskipun jauh.
"Slamat pagi Master Poin Mencari Cinta" sapa Christa. Aku memelototinya setajam ujung pedang. "Napa? Apa aku harus bilang 'Hendra', 'kun-kun', 'cobang', atau mungkin 'playboy sejati'" Yupz semua itu julukan serta nama anehku di kelas.
"Bodo ah gua lagi buru-buru banget" aku sebaiknya tetap konsentrasi
"Kalau buru-buru ada tuh ama paru-paru" mungkin ini yang buat aku putus sama dia. Jayusnya ga pernah berkurang malah nambah terus
"Bilang : "Aku gak lucu gitu" "
"Aku gak lucu gitu hahahaha" dasar kakak adik 'setali tiga uang' sama-sama aneh. Anggap scene itu Selanjutnya aku harus cari ditaman belakang sekolah. Dugaanku benar, dia ada disana. Tapi apa aku salah liat. Bidadariku menitihkan air matanya yang berarti bagiku. Siapa orang hina yang berani membuat malaikat cintaku menangis? Kalau sampai aku tahu, akan ku jadikan perkedel. Aku memutuskan mendatanginya dan menaruh pantatku diatas benda yang terbuat dari bahan kayu jati tua yang kuat. Tiba-tiba saja seseorang menarik tanganku dari belakang. Ketika aku berbalik ternyata Surya yang menggengam tanganku. Ia membawa kami jauh dari Fanny. PLAAAKK Apa-apa nih dia main tampar muka orang seenak udelnya.
"Keparat lu. Gua kira lu suka sama Fanny. Tapi malah lu yang buat dia nangis" JLEEB Whaat?! Jadi aku sumber masalahnya "Dia liat lu lagi ciuman berdua sama Lena. Gua liat dia langsung lari sambil ngeluarin tetesan kepedihan. Lu memang ga punya perasaan!" bentaknya padaku. Sebelumnya dia tak pernah sekalipun membentakku
"Sumpah itu gak ada unsur kesengajaan. Ini semua cuma salah faham"
"Ya lu jangan jelasin ke gua. Kasi penjelasan ke dia, siapa tau dia mau denger" setelah itu Surya pergi meninggalkanku sendiri. Termenung dalam kesunyian. Mengintrospeksi diri apa yang harus kulakukan sekarang. Dan keputusan yang keluar hanya menemui Fanny. Aku langsung melesat dengan speed maksimal. Tepat saat aku ditempat  tadi sudah ada Surya dan Lena disamping Fanny dan mereka tampak sedang ngempet ketawa. Apa sih yang sebenarnya terjadi?
"Kita udah kaya patung nunggu loe kelamaan"
"Bener kata Lena, kita udah kayak patung berdebu" sahut Surya. Aku bingung dibuatnya. "Sesungguhnya seluruh kejadian tadi itu rencana gua ama Lena. Dan hasil kesimpulan gua, lu ama Fanny itu cocok 100%. Udah jadian aja sekalian"
"Resek loe berdua komplotan ngerjain gue. Parah deh"
"O, gue lupa dipanggil Pak Kurnia tadi" pake trik basi buat kabur
"Kok bisa lupa yah, gua kan juga" ini orang saja gak ada bedanya "Byee..." "Daaa.." . Sesaat setelah mereka pergi, lagu keheninganpun diputar dengan iringan suara jangkrik dan kodok. Sampai suara Fanny menyetopnya
"Mau terus berdiri disitu" lalu aku duduk disampingnya
"Aku mohon maaf soal yang tadi.."
"Lupakan saja. Lagian itukan cuma peristiwa yang gak disengaja"
"Soal yang dulu-dulu.."
"Lupakan saja. Lagian itukan cuma masa lalu yang sudah terlampaui"
"Intinya kamu maafin aku nggak"
"Enggak."
"Kok enggak?"
"Enggak punya alasan buat enggak maafin kamu"
"Hah, syukurlah. Jantungku hampir copot seketika" "Tunggu sebentar yaa,, ini dia. Coklat ini buat kamu semoga kamu suka. Tapi aku ga bisa ngasi kamu banyak yang kayak kamu mau, wajarlah kanker kantong kering, bokek duit cuma tinggal cring cring"
"Bukan hal yang berarti. Coklat ini salah satu favorit aku. Thanks very much"
"Ada satu lagi.." kebeneran disebelah bangku ada bunga aku petik ah. "Aku ingin menyatakan perasaanku padamu. Setiap kali bersamamu aku merasa senang. Tiap kulihat senyumanmu hatiku selalu mengatakan satu hal yang sama.......... I LOVE U, WILL YOU BE MY GIRLFRIEND?"
"Kalau kamu beneran sayang sama aku. Kamu sabar tunggu jawabannya pas perpisahan sekolah"
"Kalau memang itu keinginanmu, aku bakal sabar menantimu"
SKIP TIME
14th March => Hari ini White Day. Saat dimana perempuan akan memberi laki-laki coklat seperti yang dilakukan sang laki-laki padanya kala perayaan hari Kasih Sayang. Sama seperti kebanyakan gadis, Fanny juga memberiku cokelat putih. Namun tak cuma Fanny, gadis lain yang ga aku beri coklat ada yang ngasi aku. Karena aku menghargai niat baik mereka ya aku terima saja. Tur juga ga ada ruginya
16th August => Tepat hari ini Fanny berulang tahun. Aku datang pagi-pagi sangat kerumahnya. Berniat mengajaknya jalan. Alhasil, kami menghabiskan seharian penuh berdua. Mulai dari sarapan di restoran kegemarannya, keliling kota, nonton bioskop, pergi ke danau, sampai puncaknya saat pesta perayaaan hari jadinya. Disitu aku menghadiahinya sebuah jam tangan yang selama ini dia inginkan
20th August => Berselang empat hari kemudian. Giliranku memperingati hari ulang tahunku. Aku harap kedepannya bisa lebih baik dan makin dewasa apalagi dengan cinta. Aku penasaran surprise apa yang akan terjadi nanti? Dibuka kejutan yang diberi keluargaku, guru dan teman-temanku. Ada yang memberi ucapan selamat, kue tart, kado, bahkan tepung, telur, dan air dilempar kearahku. Menyenangkan? Tidak, aku tidak mendapat kejutan dari Fanny. Aku terus memikirkannya di halaman depan rumahku. Berbaring di atas rerumputan hijau yang melambai-lambai karena besarnya angin malam. Tiba-tiba... Orang yang kutunggu datang sembari membawa kue ulang tahun dengan lilin yang jumlahnya sama dengan umurku sekarang. Saat kutanya mengapa malam begini, jawaban yang kudapat darinya adalah sebab aku pertama kali keluar ke bumi. Akhirnya dia memberiku kado sebuah sepatu sepakbola yang aku impikan sejak dulu.
25th December => Dalam rangka perayaan Natal, sekolah kami mengadakan tukar kado. Lelaki memberi kado kepada perempuan dan sebaliknya. Aku menyiapkan sebuah bando berwarna merah. Saat acara dimulai, kami diharuskan mengumpulkan kado tersebut dan akan dibagi oleh para guru. Mungkin kebetulan atau sudah takdir, aku dan Fanny bertukar kado. Kubuka kotak yang bergambar Minion, salah satau karakter kartun favorit. Didalamnya terdapat satu kotak lagi. Kubuka lagi bagian penutupnya dan aku terkejut. Muncul Santa Claus dan rusa mengucapkan "Merry Christmas"
31th December => Mumpung keluargaku dan keluarganya enggak libur kemana-mana aku ngajakin dia pergi alun-alun. Yah, town square gitu lah. Banyak hal yang aku lakukan bersamanya. Makan kembang gula, naik komedi putar dan biang lala, meniup gelembung dan masih banyak lagi. Pada tepat jam 12 tengah malam, kembang api bertebaran di langit hitam. Menandakan kami akan menjalani tahun yang baru bergulir
On this year => Kami kembali merayakan Imlek, Valentine, dan juga White Day berdua. Seru pastinya. Para jombloers patut iri pada kami
One day on May => Seusai kami menuntaskan tugas, Tryout, UTS, UAS, Ujian Sekolah, Ujian Praktek, UN, maupun tes masuk sekolah, kami mengadakan acara perpisahan sekolah. Aku bersama teman-teman menampilkan band bernama 'Taka'. Terdiri atas aku berperan sebagai pemain keyboard sekaligus penyanyi, Chista sebagai drummer dan leader, Bob sebagai bassist. Bermain dengan musuh?? Aku sudah berbaikan dengannya hampir setahun yang lalu. Dan pahlawan kala itu adalah Fanny. Kembali ke performance, kami menyajikan 2 lagu: Whataya dan The Reason.
Tak hanya aku, group Fanny juga ambil bagian. Menampilkan modern dance ala girlband k-pop. Kalau boleh bohong dia cantik banget hari ini (bo'ong aja masih muji gimana jujurnya). Setelah itu, kami sekelas mempersembahkan sebuah drama bertema tentang seorang anak {Surya} yang menyukai seorang cewek {Lena} tapi tidak disetujui kedua orang tuanya {David & Fanny} lantaran perbedaan status sosial. Atas bujukan kedua saudaranya {Christa & Cindy}, keduanya akhirnya setuju. Seelanjuutnya, ada dansa bersama. Akupun mengajak Fanny untuk menjadi pasanganku. Kemudian, ada pengumuman pasangan paling romantis dan kami berdua yang terpilih. Setelah itu kami kembali ke backstage. Aku menarik tangan Fanny menuju keluar ruangan.
"Apa kamu udah siap ngasi jawaban itu ke aku?" tanyaku to-the-point tanpa basi-basi
"Jawaban? Jawaban apa?" dia malah balik nanya. apa dia lupa?
"Tentang perasaan kamu ke aku?" kataku memperjelas
"Eh, hape kamu di silent kan? Ubah gih" dia seperti mengalihkan pembicaraan
"Tapi....."
"Udah lakuin aja. Kan siapa tahu ada yang mau urusan sama kamu"
"Ya deh" kubuka hapeku dan ada satu pesan masuk di FB-ku. Isinya...
Fanny . aktif 5 menit yang lalu
Sebenernya aku juga cinta sama kamu <3
Dikirim melalui BlackBerry 5 menit yang lalu
"Jadiiiiii.."
"Ya, aku mau kok jadi kekasihmu"
"Ye.. yess.. akhirnya aku punya pacar yang bener sayang sama aku" aku senang sesenang-senangnya mungkin dari sekian tanggal di diary (buku harian) aku, ini yang terbaik "Boleh aku minta.." sambil memonyongkan bibirku
"Boleh saja, tapi jangan lama-lama"
Setelah itu, aku dan dia sah menjadi pacar dan sekolah di tempat yang sama. Hanya saja aku berada di SMK namun dia ada di SMA.